Stres dan Adaptasi

Stres
A. Pengertian Stres
Dewasa ini perubahan tata nilai kehidupan (perubahan psikososial) berjalan begitu cepat karena pengaruh globalisasi, modernisasi, informasi, industrialisasi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal tersebut berpengaruh terhadap pola hidup, moral, dan etika. Beberapa contoh perubahan pola hidup, misalnya pola hidup social religius berubah individualistis, materialistis, dan sekuler; pola hidup produktif ke pola hidup konsumtif dan mewah; dan ambisi karier yang menganut asas moral dan etika hukum ke cara KKN.
Perubahan psikososial dapat merupakan tekanan mental ( stressor psikososial ) sehingga bagi sebagian individu dapat menimbulkan perubahan dalam kehidupan dan berusaha beradaptasi untuk menanggulanginya. Stresor psikososial, seperti perceraian karena tidak diamalkannya kehidupan religious dalam rumah tangga, masalah orang tua dengan banyaknya kenakalan remaja, dll.
“Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stressor psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan)” ( Hawari, 2001).
“Stres adalah suatu kekuatan yang mendesak atau mencekam; yang menimbulkan suatu ketegangan dalam diri seseorang “ (Heerdjan, 1987).
Secara umum, yang dimaksud “Stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dan lain-lain”.
“Stres adalah segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri, dan karena itu, sesuatu yang mengganggu keseimbangan kita” ( Maramis, 1999).
Menurut Cornelli, sebagaimana dikutip oleh Grant Brecht (2000) bahwa yang dimaksud “Stres adalah ganguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan, yang dipengaruhi baik oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam lingkungan tersebut”.
Kesimpulan:
Stres adalah gangguan pada tubuh dan pikiran akibat tekanan, perubahan, ketegangan, emosi dan lain-lain yang menimbulkan dampak pada fisik dan psikologi seseorang.


B. Faktor yang mempengaruhi Stres
  • Faktor biologis√† Herediter, konstitusi tubuh, kondisi fisik, neurofsiologik, dan neurohormonal.
  • Faktor psikoedukatif/sosio cultural√† Perkembangan kepribadian, pengalaman, dan kondisi lain yang mempengaruhi

C. Penggolongan Stres
Apabila ditinjau dari penyebab stress, menurut Sri Kusmiati Desminiarti (1990), dapat digolongkan sebagai berikut.
  1. Stres fisik, disebabkan oleh suhu atau temperature yang terlalu tinggi atau rendah, suara amat bising, sinar yang terlalu terang, atau tersengat arus listrik.
  2. Stres kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormone, atau gas.
  3. Stres mikrobiologik, disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang menimbulkan penyakit’
  4. Stres fisiologik, disebabkan oleh gangguan struktur , fungsi jaringan, organ atau sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.
  5. Stres proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua.
  6. Stres psikis/emosional, disebabkan oleh gangguan hubungan interpersonal, social, budaya, atau keagamaan.
Adapun menurut Grand (2000), stress ditinjau dari penyebabnya hanya dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :
  1. Penyebab makro, yaitu menyangkut peristiwa besar dalam kehidupan, seperti kematian, perceraian, pensiun, luka batin, dan kebangkrutan.
  2. Penyebab mikro, yaitu menyangkut peristiwa kecil sehari-hari, seperti pertengkaran rumah tangga, beban pekerjaan, masalah apa yang akan dimakan, dan antri.

D. Sumber Stres Psikologis
Menurut Maramis (1999), ada empat sumber atau penyebab stress psikologis, yaitu :
Frustasi
Timbul akibat kegagalan dalam mencapai tujuan karena ada aral melintang, misalnya apabila ada perawat Puskesmas lulusan SPK bercita-cita ingin mengikuti D3 Akper program khusus puskesmas, tetapi tidak diizinkan oleh istri/suami, tidak punya biaya, dan sebagainya.
Frustasi ada yang bersifat intrinsic (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian orang yang dicintai, kegoncangan ekonomi, pengangguran, perselingkuhan, dan lain-lain).
Konflik
Timbulnya karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya approach-approach conflict, approach-avoidance conflict, atau avoidance-avoidance conflict.
Tekanan
Timbul sebagai akibat tekanan hidup sehari-hari. Tekanan dapat berasal dari dalam diri individu, misalnya cita-cita atau norma yang terlalu tinggi. Tekanan yang berasal dari luar diri individu, misalnya orang tua menuntut anaknya agar di sekolah selalu ranking satu atau istri menuntut uang belanja yang berlebihan kepada suami.
Krisis
Krisis yaitu keadaan yang mendadak, yang menimbulkan stress pada individu, misalnya kematian orang yang disayangi, kecelakaan, dan penyakit yang harus segera dioperasi.
Keadaan stress dapat terjadi beberapa sebab sekaligus, misalnya frustasi, konflik, dan tekanan.


E. Reaksi dan Respon Tubuh Terhadap Stres
Respon stres melibatkan semua fungsi tubuh, sehingga terlampau besarnya stres yang menghabiskan sumber-sumber adaptif kita dapat menyebabkan kelelahan, beragam masalah kesehatan, dan bahkan akibat yang fatal.
Respon Fisik
o Rambut
Warna rambut yang semula hitam pekat, lambat laun mengalami perubahan warna menjadi kecoklat-coklatan serta kusam. Ubanan(rambut memutih) terjadi sebelum waktunya, demikian pula dengan kerontokan rambut.
o Mata
Ketajaman mata seringkali terganggu misalnya kalau membaca tidak jelas karena kabur. Hal ini disebabkan karena otot-otot bola mata mengalami kekenduran atau sebaliknya sehingga mempengaruhi fokus lensa mata.
o Telinga
Pendengaran seringkali terganggu dengan suara berdenging (tinitus).
o Ekspresi wajah
Wajah seseorang yang stres nampak tegang, dahi berkerut, mimik nampak serius, tidak santai, bicara berat, sukar untuk senyum/tertawa dan
o Mulut
Mulut dan bibir terasa kering sehingga seseorang sering minum. Selain daripada itu pada tenggorokan seolah-olah ada ganjalan sehingga ia sukar menelan, hal ini disebabkan karena otot-otot lingkar di tenggorokan mengalami spasme (muscle cramps) sehingga serasa “tercekik”.
o Kulit
Pada orang yang mengalami stres reaksi kulit bermacam-macam; pada kulit dari sebahagian tubuh terasa panas atau dingin atau keringat berlebihan. Reaksi lain kelembaban kulit yang berubah, kulit menjadi lebih kering. Selain daripada itu perubahan kulit lainnya adalah merupakan penyakit kulit, seperti munculnya eksim, urtikaria (biduran), gatal-gatal dan pada kulit muka seringkali timbul jerawat (acne) berlebihan; juga sering dijumpai kedua belah tapak tangan dan kaki berkeringat (basah).
o Sistem Pernafasan
Pernafasan seseorang yang sedang mengalami stres dapat terganggu misalnya nafas terasa berat dan sesak disebabkan terjadi penyempitanpada saluran pernafasan mulai dari hidung, tenggorokan dan otot-otot rongga dada. Nafas terasa sesak dan berat dikarenakan otot-otot rongga dada (otototot antar tulang iga) mengalami spasme dan tidak atau kurang elastis sebagaimana biasanya. Sehingga ia harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk menarik nafas. Stres juga dapat memicu timbulnya penyakit asma (asthma bronchiale) disebabkan karena otot-otot pada saluran nafas paruparu juga mengalami spasme.
o Sistem Kardiovaskuler
Sistem jantung dan pembuluh darah atau kardiovaskuler dapat terganggu faalnya karena stres. Misalnya, jantung berdebar-debar, pembuluh darah melebar (dilatation) atau menyempit (constriction) sehingga yang bersangkutan nampak mukanya merah atau pucat. Pembuluh darah tepi (perifer) terutama di bagian ujung jari-jari tangan atau kaki juga menyempit sehingga terasa dingin dan kesemutan. Selain daripada itu sebahagian atau seluruh tubuh terasa “panas” (subfebril) atau sebaliknya terasa “dingin”.
o Sistem Pencernaan
Orang yang mengalami stres seringkali mengalami gangguan pada sistem pencernaannya. Misalnya, pada lambung terasa kembung, mual dan pedih; hal ini disebabkan karena asam lambung yang berlebihan (hiperacidity). Dalam istilah kedokteran disebut gastritis atau dalam istilah awam dikenal dengan sebutan penyakit maag. Selain gangguan pada lambung tadi, gangguan juga dapat terjadi pada usus, sehingga yang bersangkutan merasakan perutnya mulas, sukar buang air besar atau sebaliknya sering diare.
o Sistem Perkemihan.
Orang yang sedang menderita stres faal perkemihan (air seni) dapat juga terganggu. Yang sering dikeluhkan orang adalah frekuensi untuk buang air kecil lebih sering dari biasanya, meskipun ia bukan penderita kencing manis (diabetes mellitus).
o Sistem Otot dan tulang
Stres dapat pula menjelma dalam bentuk keluhan-keluhan pada otot dan tulang (musculoskeletal). Yang bersangkutan sering mengeluh otot terasa sakit (keju) seperti ditusuk-tusuk, pegal dan tegang. Selain daripada itu keluhan-keluhan pada tulang persendian sering pula dialami, misalnya rasa ngilu atau rasa kaku bila menggerakan anggota tubuhnya. Masyarakat awam sering mengenal gejala ini sebagai keluhan ”pegal-linu”.
o Sistem Endokrin
Gangguan pada sistem endokrin (hormonal) pada mereka yang mengalami stres adalah kadar gula yang meninggi, dan bila hal ini berkepanjangan bisa mengakibatkan yang bersangkutan menderita penyakit kencing manis (diabetes mellitus); gangguan hormonal lain misalnya pada wanita adalah gangguan menstruasi yang tidak teratur dan rasa sakit (dysmenorrhoe).
Respon Psikologis
Faktor-faktor Psikologis dapat mempengaruhi fungsi fisik, faktor-faktor fisik juga dapat mempengaruhi fungsi mental. Gangguan fisik yang diyakini disebabkan atau dipengaruhi faktor psikologis pada masa lalu yang disebut psikosomatis (psychosomatic) atau psikofisiologis.
Daya pikir
Pada orang seseorang yang mengalami stres, kemampuan bepikir dan mengingat serta konsentrasi menurun. Orang menjadi pelupa dan seringkali mengeluh sakit kepala pusing.


F. Mekanisme Terjadinya Stres
Mekanisme terjadinya stress dan pengaruhnya terhadap pikiran dan tubuh.
Setiap kali ada ransangan/ perubahan yang dirasakan oleh panca indra kita, maka melalui syaraf2 panca indra tersebut mengirimkan signyal ke Hypophyse (berada di dasar otak) sebagai alaram selanjutnya mengirimkan signyalnya ke kelenjar anak ginjal untuk melepaskan hormone Adrenalin dan Cortisol, Cortisol ini meningkatkan gula darah yang terutama digunakan otak (berfikir/mengatur), selain itu fungsi cortisol untuk meningkatkan persediaan bahan perbaikan sel2 tubuh, system kekebalan tubuh, reproduksi dan pertumbuhan serta merangsang beberapa kelenjar tubuh lainnya untuk peroses metabolisme sedangkan Adrenaline meningkatkan denyut jantung , dan peningkatan tekanan darah dan juga meningkatkan pasokan energi.
Jika pikiran dan tubuh selalu cemas karena stres yang berlebihan setiap hari,lama kelamaan tubuh akan menghadapi masalah-masalah kesehatan serius.Tubuh sebagai Hardwire akan bekerja terus menerus dalam kondisi tidak normal/ overload yang akhirnya dapat menyebabkan:
  1. Gangguan jantung
  2. Masalah tidur
  3. Masalah pencernaan
  4. Depresi
  5. Obesitas
  6. pelemahan Memori/ingatan
  7. Kelainan pada kulit seperti eksim dan lain-lain,Dengan adanya kelainanan -kelainan pada tubuh tadi (dirasakan) menyebabkan kekewatiran , memicu pemikiran2 yang tidak rasional.
Stimulasi atau stress. Reaksi yang timbul berupa peningkatan denyut jantung, napas yang cepat, penurunan aktivitas gastrointestinal. Sementara sistem parasimpatis membuat tubuh kembali ke keadaan istirahat melalui penurunan denyut jantung, perlambatan pernapasan, meningkatkan aktivitas gastrointestinal. Perangsangan yang berkelanjutan terhadap sistem simpatis menimbulkan respon stress yang berulang-ulang dan menempatkan sistem otonom pada ketidakseimbangan. Keseimbangan antara kedua sistem ini sangat penting bagi kesehatan tubuh.
Kelenjar adrenal berisi dua daerah yang berbeda, bagian dalam atau medulla yang mensekresi adrenalin (epinefrin) dan noradrenalin (norepinefrin) dan lapisan luar atau korteks yang mensekresi kortikosteroid mineral (aldosteron) dan glukokortikoid (kortisol). Secara simultan, hipotalamus bekerja secara langsung pada sistem otonom untuk merangsang respon yang segera terhadap stress. Sistem otonom sendiri diperlukan dalam menjaga keseimbangan tubuh. Sistem otonom terbagi dua yaitu sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem simpatis bertanggung jawab terhadap adanya 18


Adaptasi
A. Pengertian Adaptasi
Ada beberapa pengertian tentang mekanisme penyesuaian diri, antara lain :
W.A.Gerungan (1996) menybutkan bahwa “Penyesuaian diri adalah
mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri)”.
Mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan sifatnya pasif (autoplastis), misalnya seorang bidan desa harus dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma dan nilai-nilai yang dianut masyarakat desa tempat ia bertugas.
Sebaliknya, apabila individu berusaha untuk mengubah lingkungan sesuai dengan keinginan diri, sifatnya adalah aktif (alloplastis), misalnya seorang bidan desa ingin mengubah perilaku ibu-ibu di desa untuk meneteki bayi sesuai dengan manajemen laktasi.
Menurut Heerdjan (1987), “Penyesuaian diri adalah usaha atau perilaku yang tujuannya mengatasi kesulitan dan hambatan”.
Adaptasi merupakan pertahanan yang di dapat sejak lahir atau diperoleh karena belajar dari pengalaman untuk mengatasi stress. Cara mengatasi stress dapat berupa membatasi tempat terjadinya stress, mengurangi, atau menetralisasi pengaruhnya.
Adaptasi adalah suatu cara penyesuaian yang berorientasi pada tugas (task oriented).
Kesimpulan :
Adaptasi adalah penyesuaian diri, dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan sekitar dengan harapan mengatasi kesulitan dan hambatan dari persoalan yang ada karena perbedaan dari kebiasaan.

Stres dan Adaptasi pada Siklus Kehidupan Perempuan dan Penanggulangannya
Perempuan adalah individu yang seringkali berperan ganda sehingga pada perempuan sering kali mudah terjadi stres, dari mulai remaja, pranikah, masa hamil, masa nifas, masa menyusui dan masa menopause atau sering disebut siklus kehidupan wanita.

A. Pada Masa Remaja
Masa remaja bisa disebut sebagai puncak stress seseorang. Disinilah masa dimana pertentangan antara naluri keremajaannya berbenturan dengan peraturan, konflik, tuntutan, dominasi, keluarga dan lingkungan. Peralihan masa dari jiwa kanak-kanak yang labil menuju jiwa yang lebih dewasa. Di masa remaja inilah stress yang akan menentukan tingkat kedewasaan seseorang.
Berikut adalah contoh kasus dari stres pada remaja :


PERUBAHAN/KASUS
RESPON STRES
PENANGGULANGAN


FISIK
^Pada masa pubertas:
-Perempuan :
*Menarche(menstruasi pertama)
*Payudara menjadi membesar
 (tanpa ada pendidikan seks oleh orang tua)
Respon si anak remaja baru : kebingungan, cemas , ketakutan yang berlebihan, timbulnya rasa malu, berhayal
Pemberian pendidikan seks terhadap anak yang memasuki usia remaja, dan memberi penjelasan bahwa perubahan tersebut adalah hal yang normal sehingga tidak perlu remaja tersebut stres dan perlu adanya perbedaan perlakuan terhadap tubuh, contohnya pada wanita yang harus memakai miniset/bra karena payudaranya mulai berkembang.



PSIKO-
LOGI
^Kekangan berlebihan pergaulan dari orang tua (overprotective)
^Putus cinta
^Kegagalan Pendidikan (ujian)
^broken home
sakit kepala, cemas, mudah marah, pemurung, sedih berlebihan, menangis, nafsu makan berkurang, gangguan tidur,frustasi, putusasa, bunuh diri
^datang ke psikolog
^support/perhatian yang lebih dari pihak keluarga dan orang2 sekitar
^lebih mendekatkan diri kepada Allah (agama)
^positive thinking

  

B. Pada Masa Pranikah
Penyebab Terjadinya Sindrom Pranikah:
  1. Belum benar-benar siap untuk menikah.
  2. Belum siap untuk punya anak.
  3. Kedua calon mempelai membayangkan indahnya pernikahan, tapi terkadang tanpa belajar untuk siap menerima kekurangan-kekurangan dari orang yang kelak menikah dengannya, akibatnya menjelang pernikahan berlangsung muncul rasa gamang dan ragu terhadap pasangannya.
  4. Kejenuhan pada salah satu calon mempelai atau keduanya.
Contoh kasus :

PERUBAHAN/KASUS
RESPON STRES
PENANGGULANGAN
PSIKO-
LOGI

^pertengkaran karena adanya perbedaan pendapat antara pasangan yang akan menikah tentang pernikahan mereka
^ terlalu banyak campur aduk calon pengantin pada proses persiapan pernikahan
^tidak siap untuk menikah
Timbul keraguan pada calon suami/istri, cemas, sulit tidur, sedih, bimbang, kelelahan hingga jatuh sakit, emosi tinggi, sesak nafas
^berkomunikasi dengan baik
^saling menghargai dan menghormati
^bantuan dari pihak keluarga dalam mempersiapkan nya
^bersikap lebih dewasa menerima kekurangan dan kelebihan calon suami/istri
^saling introfeksi diri


C. Pada Masa Kehamilan
Hubungan episode kehamilan dengan reaksi psikologi yaitu:
  • Trimester pertama : timbul fluktuasi lebar aspek emosional sehingga periode ini mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya pertengkaran atau rasa tidak nyaman.
  • Trimester kedua : fluktuasi emosional sudah mulai mereda dan perhatian wanita hamil lebih berfokus pada berbagai perubahantubuh yang terjadi selama kehamilan, kehidupan seksual, keluarga dan hubungan batiniah dengan bayi yang dikandungnya.
  • Trimester ketiga : berkaitan dengan bayangan resiko kehamilan dan prosespersalinan sehingga wanita hamil sangat emosional dalam upaya mempersiapkan atau mewaspadai segala sesuatu yang mungkin akan dihadapi.
Kehamilan bagi keluarga dan khususnya seorang wanita merupakan peristiwa yang penting, meskipun demikian kehamilan juga merupakan saat – saat krisis bagi keluarga di mana terjadi perubahan identitas dan peran ibu, ayah, serta anggota keluarga lainnya.
Tugas ibu pada masa kehamilan :
  1. Menerima kehamilannya
  2. Membina hubungan dengan janin
  3. Menyesuaikan perubahan fisik
  4. Menyesuaikan perubahan hubungan suami istri
  5. Persiapan melahirkan dan menjadi orang tua
Kehamilan dapat sebagai :
  1. Krisis
    Krisis merupakan ketidakseimbangan psikologis yang dapat disebabkan oleh situasi atau oleh tahap perkembangan.
  2. Stresor
    Model konseptual menyatakan bahwa krisis psikologis dan sosial dipertimbangkan, sebagai kejadian yang kritis tapi tidak selalu ditunjukkan dengan masalah psikologis dan interpersonal yang nyata. Setiap perubahan yang terjadi pada seseorang dapat merupakan stresor. Kehamilan membawa perubahan yang signifikan pada ibu sehingga dapat dinyatakan sebagai stresor, yang juga mempengaruhi psikologis anggota keluarga lainnya.
  3. Transisiperan
    Terjadi perubahaninteraksi rutin dalam keluarga, dengan adanya anggota keluarga yang baru sehingga terjadi perubahan peran masing-masing anggota keluarga; ayah, ibu, dan anggota keluarga yang lainnya
Terjadi perubahaninteraksi rutin dalam keluarga, dengan adanya anggota keluarga yang baru sehingga terjadi perubahan peran masing-masing anggota keluarga; ayah, ibu, dan anggota keluarga yang lainnya.
Tahapan Perubahan Peran dalam Kehamilan
Perubahan psikologis selama kehamilan terjadi oleh karena semakin bertambahnya usia kehamilan dan adanya adaptasi peran barunya. Tahapanperubahan peran selama kehamilan menurut Reva Rubin adalah sebagai berikut:
Tahap antisipasi atau anticipatory stage
Tahap antisipasi merupakan tahap sosialisasi atau latihan untuk penampilan peran yang diasumsikan pasangan (suami/istri) berkaitan dengan fantasi. Wanita akan mengawali peran barunya dengan merubah peran sosialnya melalui latihan informal dan informasi melalui model peran. Meningkatnya frekuensi interaksi dengan yang lainnya akan mempercepat prosesadaptasi dalam penerimaan peran barunya sebagai ibu.
Tahap honeymoon atau honeymoon stage
Tahap honeymoon merupakan tahap dimana wanita mengasumsikan peran yang harus ditampilkan, melakukan pendekatan dan eksplorasi terhadap sikap yang dibutuhkan untuk penampilan peran, mulai melakukan latihan peran. Pada tahap ini, wanita sudah dapat menerima peran barunya dengan cara menyesuaikan diri dan muncul kebutuhan akan kasih sayang baik ibu-bayi, ibu-suami. Hal lain yang mempengaruhi tahapan honeymoon adalah kesiapan menghadapi kelahiran bayinya serta dukungan dari orang-orang terdekat.
Tahap stabil atau plautau stage
Tahap stabil merupakan tahapan dimana wanita hamil dapat melihat penampilan dalam peran barunya. Pada tahap ini, pasangan memvalidasikan apakah peran yang akan ditampilkan adekuat/tidak, yang semuanya tergantung pada bagaimana mereka atau yang lainnya membentuk peran yang harus ditampilkan. Wanita hamil akan melakukan kegiatan–kegiatan yang positif dan berfokus pada kehamilannya dan hal yang berguna bagi kesehatankeluarga.
Tahap akhir atau disengagement/termination stage
Tahap ini merupakan tahap terminasi/pengakhiran peran. Peran pasangan pada kehamilan berakhir setelah prosespersalinan selanjutnya pasangan memasuki tahap peran lainnya. Tahap ini disebut juga sebagai tahap perjanjian. Perjanjian ini dilakukan agar wanita hamil sedapat mungkin menepati janjinya yang berkaitan dengan peran barunya kelak.
Contoh kasus :


PERUBAHAN/KASUS
RESPON STRES
PENANGGULANGAN


FISIK
^perubahan bentuk tubuh yang membesar karena perkembangan kehamilan
^mual dan muntah
^nutrisi yang lebih untuk perkembangan si janin
^payudara membesar
Resah, tidak PD, minder, malu, tidak menginginkan kehamilannya, sakit kepala, sedih, mudah marah, ketidak nyamanan pada ibu, sulit tidur, mudah tersinggung
^menyadari bahwa kehamilan itu adalah suatu anugrah dan suatu hal yang membanggakan
^konsultasi kepada bidan
^perhatian yang lebih dari suami dan pihak keluarga agar tidak stres
^melakukan aktifitas ringan yang membuat ibu hamil merasa senang ; senam ibu hamil





PSIKO-LOGI
^Perubahan peran(Menjadi ibu baru)
^kehidupan seksual pada masa kehamilan
^interaksi dengan janin yang dikandung
^rutin memeriksakan kehamilan ke posyandu/bidan
^ingin perhatian lebih; meminta sesuatu yang aneh-aneh(ngidam)
^akan mengalami proses persalinan
Binggung, resah, tidak PD, sulit tidur, mudah marah, mudah tersinggung, sakit kepala, sedih, takut
^meminta penjelasan kepada bidan tentang apa yang ibu hamil tidak ketahui
^perhatian yang lebih dari keluarga dan suami, dampingi selalu
^meyakini bahwa berinteraksi dengan janin yang dikandung adalah suatu hal yang menyenangkan
^meyakini bahwa melahirkan adalah suatu yang biasa bagi para wanita dan tidak perlu di takuti

D. Pada Masa Nifas
Periode masa nifas merupakan waktu dimana ibu mengalami stress pasca persalinan, terutama pada ibu primipara. Hal-hal yang dapat membantu ibu dalam beradaptasi pada masa nifas adalah sebagai berikut
  • Fungsi yang memengaruhi untuk sukses dan lancarnya masa transisi menjadi orang tua
  • Respons dan dukungan dari keluarga dan teman dekat
  • Riwayat pengalaman hamil dan melahirkan sebelumnya
  • Harapan, keinginan, dan aspirasi ibu saat hamil juga melahirkan
Periode ini di ekspresikan oleh reva rubin yang terjadi pada tiga tahap berikut ini
1. Taking in period
Terjadi pada 1-2 hari setelah persalinan, ibu masih pasif dan sangat bergantung pada orang lain, focus perhatian pada tubuhnya, ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami, serta kebutuhan tidur dan nafsu makan meningkat.
2. Taking hold period
Berlangsung 3-4 hari postpartum, ibu lebih berkonsentrasi pada kemampuannya daalm menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayi. Pada masa ini ibu menjadi sangat sensitif, sehingga membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang di alami ibu.
3. Letting go period
Di alami setelah tiba ibu dan bayi dirumah. Ibu mulai secara penuh menerima tanggung jawab sebagai ‘’seorang ibu’’ dan menyadari atau merasa kebutuhan bayi sangat bergantung pada dirinya.
Hal-hal yang harus dapat di penuhi selama masa nifas adalah sebagai berikut :
  • Fisik. Istirahat, memkan makanan bergizi, sering menghirup udara segar, dan lingkungan yang bersih.
  • Psikologi. Stress setelah persalinandapat segera distabilkan dengan dukungan dari keluarga yang menunjukan rasa simpati, mengakui dan menghargai ibu.
  • Social. Menemani ibu bila terlihat kesepian, ikut menyayangi anaknya, menanggapi dan memerhatikan kebahagian ibu, serta menghibur bila ibu terlihat sedih.
Psikososial
Depresi post partum sering terjadi pada masa ini. Menurut para ahli mereka didiagnosis menderita depresi post partum. Depresi merupakan gangguan afeksi yang paling sering dijumpai pada msa post partum (gorrie,1998). Walaupun insidensinya sulit untuk dketahui secara pasti, namun diyakini 10-15 % ibu yang melahirkan mengalami gangguan ini (green dan adams, 1993). Angka kejadian depresi post partum diindonesia sendiri juga belum dapat diketahui secara pasti hingga kini, mengingat belum adanya lembaga terkait yang melakukan penelitian terhadap kasus tersebut.
Tanda dan gejala yang mungkin diperlihatkan pada penderita depresi post partum adalah sebagai berikut
  • Perasaan sedih dan kecewa
  • Sering menangis
  • Merasa gelisah dan cemas
  • Kehilangan ketertarika terhadap hal-hal yang menyenangkan
  • Nafsu makan menurun
  • Kehilangan energy dan motivasi untuk melakukan sesuatu
  • Tidak bias tidur atau insomnia
  • Perasaan bersalah dan putus harapan (hopelees)
  • Penurunan atau peningkatan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Memperlihatkan penurunan untuk mengurus bayinya
Penyebab depresi postpartum sendiri belum diketahui secara pasti (gorrie, 1998). Namun, beberapa hal yang dicurigai sebagai factor predisposisi terjadinya depresi postpartum adalah sebagai berikut.
  • Perubahan hormonal yang cepat.hormon yang terkait dengan terjadinya depresi postpartum adalh prolaktin, steroid, progesterone, dan estrogen.
  • Masalah medis dalam kehamilan seperti PIH (pregnancy-induced hypertention), diabetes mellitus, atau disfungsi tiroid.
  • Riwayat depresi, penyakit mental, dan alkoholik, baik pada diri ibu maupun pada dalam keluarga
  • Karakter pribadi seperti harga diri rendah ataupun ketidakdewasaan
  • Marital dysfunction ataupun ketidakmampuan membina hubungan dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya support system
  • Marah dengan kehamilannya (unwanted pregnancy)
  • Merasa terisolasi
  • Kelemahan, gangguan tidur, ketakutan terhadap masalh keuangan keluarga, dan melahirkan anak dengan kecacatan atau penyakit
Beberapa intervensi berikut dapat membantu seseorang wanita terbebas dari ancaman depresi setelah melahirkan
  • Pelajari diri sendiri
  • Tidur dan makan yang cukup
  • Olahraga
  • Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
  • Beritahukan perasaan anda
  • Dukungan keluarga dan orang lain di perlukan
  • Persiapkan diri dengan baik
  • Lakukan pekerjaan rumah tangga
  • Dukungan emosional
  • Dukungan kelompok depresi postpartum
Post partum blues
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu-minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan-gangguan psikologis, salah satunya yang disebut Postpartum Blues.
Penyebab Postpartum BluesEtiologi atau penyebab pasti terjadinya postpartum blues sampai saat ini belum diketahui. Namun, banyak faktor yang diduga berperan terhadap terjadinya postpartum blues, antara lain:
  1. Faktor hormonal yang berhubungan dengan perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin dan estradiol. Penurunan kadar estrogen setelah melahirkan sangat berpengaruh pada gangguan emosional pascapartum karena estrogen memiliki efek supresi aktifitas enzim monoamine oksidase yaitu suatu enzim otak yang bekerja menginaktifasi noradrenalin dan serotonin yang berperan dalam perubahan mood dan kejadian depresi.
  2. Faktor demografi yaitu umur dan paritas.
  3. Pengalaman dalam proses kehamilan dan persalinan.
  4. Latar belakang psikososial ibu
  5. Takut kehilangan bayinya atau kecewa dengan bayinya.
Gejala Postpartum Blues
Gejala – gejala postpartum blues tampak dari perubahan sikap seorang ibu yang baru melahirkan, antara lain: mudah tersinggung (iritabilitas), menangis dengan tiba-tiba, cemas yang berlebihan, mood yang labil, clouding of consciousness, gangguan selera makan, merasa tidak bahagia, tidak mau bicara, mengalami gangguan tidur, tidak bergairah khususnya terhadap hal-hal yang semula sangat diminatinya, sulit berkonsentrasi dan membuat keputusan.
Kesedihan dan duka cita
Proses kehilangan menurut Klaus dan kennel (1982) meliputi tahapan
  1. Shock (lupa peristiwa)
  2. Denial (menolak, ‘’apakah ini bayiku?’’)
  3. Depresi (menangis, sedih, ‘’kanapa saya?’’)
  4. Equilibrium dan acceptance (penurunan reaksi emosional, kadang menjadi kesedihan yang kronis)
  5. Reorganization(dukungan mutual antar orang tua)
  • Respons terhadap bayi cacat yang mungkin muncul
  • Fantasi anak normal vs kenyataan
  • Shock, tidak percaya, menolak
  • Frustasi, marah
  • Menarik diri
Contoh kasus :

PERUBAHAN/KASUS
RESPON STRES
PENANGGULANGGAN


FISIK
^Adanya strechmark (garis-garis putih di perut )
^adanya jahitan  setelah persalinan
^postur badan yang belum kembali normal
^ASI keluar
Cemas, resah, tidak PD, minder, sedih, kecewa, merasa tidak bahagia, sedih, labil, mudah marah, depresi, frustasi
^konsultasi ke bidan bagaimana caranya menghilangkan strechmark di perut
^melakukan apa yang dianjurkan oleh bidan agar dapat menyembuhkan/menormalkan bekas-bekas persalinan


PSIKO-
LOGI
^Menjadi ibu yang sebenarnya
^harus memiliki rasa tanggung jawab yang lebih tinggi terhadap anaknya
Takut , sedih, kecewa,  depresi, frustasi
^support dari suami/keluarga,dampingi selalu
^pemberian pengarahan dari bidan


E. Pada Masa Menyusui
Masa menyusui terkadang menjadi masa yang membuat stres ibu, banyak gangguan dan perubahan pada fisik dan psikologi pada ibu yang menyusui,contohnya pada payudara menjadi besar, keras dan menghitam di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar) dapat mencegah perdarahan dan merangsang produksi ASI. Pada hari ke 2 hingga ke 3 akan diproduksi kolostrum atau susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang kaya akan anti body, dan protein, sebagian ibu membuangnya karena dianggap kotor, sebaliknya justru ASI ini sangat bagus untuk bayi.
Contoh kasus :
PERUBAHAN/KASUS
REAKSI STRES
PENANGGULANGAN


FISIK
^pembesaran payudara
Dan terkadang terasa sakit
^ASI tidak keluar
Menggerutu, sedih, resah, cemas
^adanya penjelasan dari bidan tentang seluk beluk menyusui
^menyadari bahwa menyusui bayi kita adalah salah satu hal mengurangi rasa sakit pada payudara


PSIKO-
LOGI
^harus menyusui anaknya
^takut  dan cemas akan payudara turun sehingga tidak ingin menyusui anaknya,
^malas karena timbulnya rasa sakit pada payudara
^suami selalu mendampingi agar si ibu merasa nyaman
^ adanya penjelasan dari bidan tentang seluk beluk menyusui
^menyakini bahwa menyusui anak itu suatu yang sangat membahagiakan bagi si ibu



F. Pada Masa Menopause/Klimaksterium
Selama menopause, wanita menghadapi perubahan-perubahan psikososial dalam hal konsep diri, transisi karir (pekerjaan), seksualitas dan keluarga. Perubahan-perubahan ini dapat menimbulkan stress yang dapat mempengaruhi kesehatan mereka (Potter & Perry, 1992). Namun demikian, stress tidak hanya menimbulkan dampak negatif, tetapi juga dampak positif. Apakah dampak itu positif atau negatif tergantung pada bagaimana seorang wanita menopause memandang dan mengendalikannya (Kuntjoro, 2002). Selain itu, apakah wanita menganggap menopause sebagai bagian dari suatu kehidupan yang wajar dan harus dialami sebagai sesuatu yang menandakan masa kehidupan yang baru dan lebih baik, maka gejala-gejala yang berkaitan dengan menopause tidak akan terlalu berat dan tidak akan menimbulkan kekacauan dalam keluarga (Gunarsa, 2002).
Masa menopause sering bertepatan dengan keadaan menegangkan dalam kehidupan wanita seperti merawat orang tua lanjut usia, memasuki masa pensiun, anak meninggalkan rumah. Ketegangan ini dapat menimbulkan gejala fisik dan Wanita menopause akan mengalami kestabilan emosi. Jika mereka mudah beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada masa menopause. Apabila seorang wanita tidak siap mental menghadapi masa menopause dan lingkungan psikososial tidak memberi dukungan yang positif, maka akan berakibat tidak baik terhadap kesehatan wanita menopause tersebut (Maspaitela, 2004).
Contoh Kasus :

PERUBAHAN/KASUS
RESPON STRES
PENANGGULANGAN

FISIK
^terhentinya proses menstruasi
^daya tahan tubuh melemah sehingga rentan terserang penyakit
 Haid tidak teratur, Hot flushes (semburan panas di daerah dada dan leher yang menyebar ke wajah sampai kulit kepala), berkeringat di malam hari, Jantung berdebar-debar, Sakit kepala/ migren, Vertigo, Imsomnia, Nyeri sendi dan otot, Cepat lelah, ^Akibat jangka panjang pada wanita menopause ini adalah osteoporosis, penyakit jantung koroner, stroke dan kepikunan.
Minder untuk melakukan suatu kegiatan karena keterbatasan(usia yang sudah renta)
^lebih merawat diri untuk meminimalisir rasa ketidakpercayaan diri
^olahraga ringan rutin, seperti jalan santai dipagi hari
PSIKO-
LOGI

^labil (emotional)
^melemahnya daya ingat
^Gairah seks menurun
^Sampai perubahan emosi seperti; cemas, depresi dan mudah tersinggung
Mudah tersinggung, ingin diperhatikan,
^keluarga dan bidan memberi pengertian bahwa menopause adalah hal yang fisiologis dan akan dialami oleh semua wanita.


Mekanisme Koping
A. Pengertian Koping
Mekanisme koping adalah cara yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah, menyesuaikan diri dengan perubahan, serta respon terhadap situasi yang mengancam (Keliat, 1999).
Sedangkan menurut Lazarus (1985), koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu.
Berdasarkan kedua definisi maka yang dimaksud mekanisme koping adalah cara yang digunakan individu dalam menyelesaikan masalah, mengatasi perubahan yang terjadi dan situasi yang mengancam baik secara kognitif maupun perilaku.


B. Penggolongan Mekanisme Koping
Mekanisme koping berdasarkan penggolongannya dibagi menjadi 2 (dua) (Stuart dan Sundeen, 1995) yaitu :
1. Mekanisme koping adiptif
adalah mekanisme koping yang mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan mencapai tujuan. Kategorinya adalah berbicara dengan orang lain, memecahkan masalah secara efektif, teknik relaksasi, latihan seimbang dan aktivitas konstruktif.
2. Mekanisme koping maladaptif
Adalah mekanisme koping yang menghambat fungsi integrasi, memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai lingkungan.
Kategorinya adalah makan berlebihan / tidak makan, bekerja berlebihan, menghindar.
Koping dapat dikaji melalui berbagai aspek, salah satunya adalah aspek psikososial (Lazarus dan Folkman, 1985; Stuart dan Sundeen, 1995; Townsend, 1996; Herawati, 1999; Keliat, 1999) yaitu :
a. Reaksi Orientasi Tugas
Berorientasi terhadap tindakan untuk memenuhi tuntutan dari situasi stress secara realistis, dapat berupa konstruktif atau destruktif. Misal :
  1. Perilaku menyerang (agresif) biasanya untuk menghilangkan atau Mengatasi rintangan untuk memuaskan kebutuhan.
  2. Perilaku menarik diri digunakan untuk menghilangkan sumber
  3. sumber ancaman baik secara fisik atau psikologis.
    • Perilaku kompromi digunakan untuk merubah cara melakukan, merubah tujuan atau memuaskan aspek kebutuhan pribadi seseorang.
b. Mekanisme pertahanan ego, yang sering disebut sebagai mekanisme pertahanan mental. Adapun mekanisme pertahanan ego adalah sebagai berikut :
  • Kompensasi
    Proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang dimilikinya.
  • Penyangkalan (denial)
    Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini adalah paling sederhana dan primitif.
  • Pemindahan(displacement)
    Pengalihan emosi yang semula ditujukan pada seseorang/benda lain yang biasanya netral atau lebih sedikit mengancam dirinya.
  • Disosiasi
    Pemisahan suatu kelompok proses mental atau perilaku dari kesadaran atau identitasnya.
  • Identifikasi(identification)
    Proses dimana seseorang untuk menjadi seseorang yang ia kagumi berupaya dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran, perilaku dan selera orang tersebut.
  • Intelektualisasi(intelectualization)
    Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya.
  • Introjeksi (Introjection)
    Suatu jenis identifikasi yang kuat dimana seseorang mengambil dan melebur nilai-nilai dan kualitas seseorang atau suatu kelompok ke dalam struktur egonya sendiri, merupakan hati nurani.
  • Isolasi
    Pemisahan unsur emosional dari suatu pikiran yang mengganggu dapat bersifat sementara atau berjangka lama.
  • Proyeksi
    Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang lain terutama keinginan, perasaan emosional dan motivasi yang tidak dapat ditoleransi.
  • Rasionalisasi
    Mengemukakan penjelasan yang tampak logis dan dapat diterima masyarakat untuk menghalalkan/membenarkan impuls, perasaan, perilaku, dan motif yang tidak dapat diterima.
  • Reaksi formasi
    Pengembangan sikap dan pola perilaku yang ia sadari, yang bertentangan dengan apa yang sebenarnya ia rasakan atau ingin lakukan.
  • Regresi
    Kemunduran akibat stres terhadap perilaku dan merupakan ciri khas dari suatu taraf perkembangan yang lebih dini
  • Represi
    Pengesampingan secara tidak sadar tentang pikiran, impuls atau ingatan yang menyakitkan atau bertentangan, dari kesadaran seseorang; merupakan pertahanan ego yang primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme lain.
  • Pemisahan(splitting)
    Sikap mengelompokkan orang / keadaan hanya sebagai semuanya baik atau semuanya buruk; kegagalan untuk memadukan nilai-nilai positif dan negatif di dalam diri sendiri.
  • Sublimasi
    Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam penyalurannya secara normal.
  • Supresi
    Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi sebetulnya merupakan analog represi yang disadari; pengesampingan yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran seseorang; kadang-kadang dapat mengarah pada represi yang berikutnya.
  • Undoing
    Tindakan/ perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari tindakan/ perilaku atau komunikasi sebelumnya; merupakan mekanisme pertahanan primitif

C. Perbedaan Stres dan Gangguan Jiwa
Stres adalah pola adaptasi umum dan pola reaksi menghadapi stresor, yang dapat berasal dari dalam di individu maupun dari lingkungannya. Bila proses adaptasi berhasil dan stresor yang dihadapi dapat diatasi secara memadai, maka tidak akan timbul stres. Baru bila gagal dan terjadi ketidakmampuan, timbullah stres. Menurut Hans Selye: Stres tidak selalu merupakan hal yang negatif. Hanya bila individu menjadi terganggu dan kewalahan serta menimbulkan distres, barulah stres itu merupakan hal yang merugikan, sedangkan,
Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola psikologis atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distress (misalnya nyeri) atau disabilitas (yaitu kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting) atau disertai dengan peningkatan resiko kematian yang menyakitkan, nyeri, disabilitas, atau sangat kehilangan kebebasan (American Psychiatric Association 1994 ).Sehingga dapat disimpulkan bahwa stress adalah salah satu sebab yang menyebabkan terjadinya gangguan jiwa, dan gangguan jiwa adalah akibat yang ditimbulkan oleh stress itu sendiri.
Gangguan jiwa adalah GANGGUAN KESEIMBANGAN NEUROTRANSMITTER di otak (Neurotransmitter adalah hormone yang dibuat dalam otak di SISTEM LIMBIK)
Sistem Limbik (atau otak Paleomammalian) ada satu set struktur otak termasuk hipokampus, amigdala, nukleus thalamic anterior, septum, korteks limbik dan forniks, yang tampaknya mendukung berbagai fungsi termasuk emosi, perilaku, memori jangka panjang, dan penciuman.


Daftar Pustaka
http://www.berbagimanfaat.com/2011/09/mekanisme-dan-respon-tubuh-terhadap.html (diakses pada tanggal 27 Oktober 2012 pada pukul 09.25 WIB)
http://kaskus-forum.blogspot.com/2011/11/gangguan-jiwa-depresi-berawal-dari.html(diakses pada tanggal 27 Oktober 2012 pada pukul 09.30 WIB)
http://medic-care.blogspot.com/2008/10/mekanisme-koping.html(diakses pada tanggal 27 Oktober 2012 pada pukul 09.45 WIB)
http://keluargacemara.com/psikologi/stres-dan-penanggulangannya.html
(diakses pada tanggal 27 Oktober 2012 pada pukul 09.25 WIB);
Hawari Dadang 2001;Heerdjan Soeharto 198 ; Maramis, 1999; Cornelli Vincent; Brecht Grant 2000;Desminiarti Sri Kusmiati 1990; W.A.Gerungan 1996; Potter & Perry, 1992; Kuntjoro, 2002; Gunarsa, 2002; Maspaitela, 2004; Keliat, 1999; Lazarus,1985; Stuart dan Sundeen,1995; Folkman, 1985; Townsend, 1996;