Radang dan Mekanisme Proses Infeksi


A. Definisi
Radang dalam bahasa medik dikenal dengan Inflammasi yaitu suatu respon jaringan tubuh yang kompleks saat menerima rangsang yang kuat akibat pengrusakan sel, infeksi mikroorganisme patogen dan iritasi. Radang juga merupakan proses tubuh mempertahankan diri dari aneka rangsangan tadi agar tubuh dapat meminimalisir dampak dari rangsangan tadi. Peradangan dapat dikenali dengan adanya beberapa tanda khas yang sering menyertai, Aulus Cornelius Celcus (30 SM – 45 M) memberi istilah latin yaitu Rubor, Calor, Dolor, Tumor. Sementara Galen menambahkan dengan Functio laesa. Menurut Katzung (2002):Radang ialah suatu proses yang dinamis dari jaringan hidup atau sel terhadap suatu rangsang atau injury (jejas) yang dilakukan terutama oleh pembuluh darah (vaskuler) dan jaringan ikat (connective tissue).


B. Penyebab Peradangan
  1. Infeksi dari mikroorganisme dalam jaringan.
  2. Trauma fisik.
  3. Cedera kimiawi, radiasi, mekanik atau termal.
  4. Reaksi imun (menimbulkan respon hipersensitif dalam jaringan).

C. Jenis-jenis Radang
  1. Radang Akut
    Radang akut adalah respon yang cepat dan segera terhadap cedera yang didesain untuk mengirimkan leukosit ke daerah cedera. Leukosit membersihkan berbagai mikroba yang menginvasi dan memulai proses pembongkaran jaringan nekrotik. Terdapat 2 komponen utama dalam proses radang akut, yaitu perubahan penampang dan struktural dari pembuluh darah serta emigrasi dari leukosit.Perubahan penampang pembuluh darah akan mengakibatkan meningkatnya aliran darah dan terjadinya perubahan struktural pada pembuluh darah mikro akan memungkinkan protein plasma dan leukosit meninggalkan sirkulasi darah. Leukosit yang berasal dari mikrosirkulasi akan melakukan emigrasi dan selanjutnya berakumulasi di lokasi cedera.
  2. Radang Kronis
    Radang kronis dapat diartikan sebagai inflamasi yang berdurasi panjang (berminggu-minggu hingga bertahun-tahun) dan terjadi proses secara simultan dari inflamasi aktif, cedera jaringan, dan penyembuhan.
    Perbedaannya dengan radang akut, radang akut ditandai dengan perubahan vaskuler, edema, dan infiltrasi neutrofil dalam jumlah besar. Sedangkan radang kronik ditandai oleh infiltrasi sel mononuklir (seperti makrofag, limfosit, dan sel plasma), destruksi jaringan, dan perbaikan.
    Radang kronik dapat timbul melalui satu atau dua jalan. Dapat timbul menyusul radang akut, atau responnya sejak awal bersifat kronik. Perubahan radang akut menjadi radang kronik berlangsung bila respon radang akut tidak dapat reda, disebabkan agen penyebab jejas yang menetap atau terdapat gangguan pada proses penyembuhan normal. Ada kalanya radang kronik sejak awal merupakan proses primer. Sering penyebab jejas memiliki toksisitas rendah dibandingkan dengan penyebab yang menimbulkan radang akut. Terdapat 3 kelompok besar yang menjadi penyebabnya, yaitu infeksi persisten oleh mikroorganisme intrasel tertentu (seperti basil tuberkel, Treponema palidum, dan jamur-jamur tertentu), kontak lama dengan bahan yang tidak dapat hancur (misalnya silika), penyakit autoimun. Bila suatu radang berlangsung lebih lama dari 4 atau 6 minggu disebut kronik. Tetapi karena banyak kebergantungan respon efektif tuan rumah dan sifat alami jejas, maka batasan waktu tidak banyak artinya. Pembedaan antara radang akut dan kronik sebaiknya berdasarkan pola morfologi reaksi.

D. Tanda-Tanda Radang
Reaksi tubuh yang mengalami peradangan memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
  1. Rubor (kemerahan)
    Rubor atau kemerahan merupakan hal pertama yang terlihat di daerah yang mengalami peradangan.Saat reaksi peradangan timbul,terjadi pelebaran arteriola yang mensuplai darah ke daerah peradangan.
    Sehingga lebih banyak darah mengalir ke mikrosirkulasi lokal dan kapiler meregang dengan cepat terisi penuh dengandarah.Keadaan ini disebut hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merahlokal karena peradangan akut.
  2. Kalor (panas)
    Kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan dari reaksi peradangan akut.Kalor disebabkan pula oleh sirkulasi darah yang meningkat. Sebab darah yang memiliki suhu 37oC disalurkan ke permukaan tubuh yang mengalami radang lebih banyak dari pada ke daerah normal.
  3. Tumor (pembengkakan)
    Pembengkakan sebagian disebabkan hiperemi dan sebagian besar ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial.
    Campuran dari cairan dan sel yang tertimbun di daerah peradangan disebut eksudat meradang.
  4. Dolor (rasa nyeri)
    Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf.Pengeluaran zat seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat merangsang saraf.Rasa sakit disebabkan pula oleh tekanan yang meninggi akibat pembengkakan jaringan yang meradang.
  5. Functiolaesa (gangguan fungsi)
    Berdasarkan asal katanya, functio laesa adalah fungsi yang hilang (Dorland, 2002).Functio laesa merupakan reaksi peradangan yang telah dikenal. Akan tetapi belum diketahui secara mendalam mekanisme terganggunya fungsi jaringan yang meradang.

E. Faktor Yang Mempengaruhi Peradangan Dan Penyembuhan
Seluruh proses peradangan bergantung pada sirkulasi yang utuh ke daerah yang terkena. Jadi, jika ada defisiensi suplai darah kedaerah yang terkena, maka proses peradangannya sangat lambat, infeksi yang menetap dan penyembuhan yang jelek.
Banyak faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka atau daerah cidera atau daerah peradangan lainnya,salah satunya adalah bergantung pada poliferasi sel dan aktivitas sintetik,khususnya sensitif terhadap defisiensi suplai darah lokal dan juga peka terhadap keadaan gizi penderita.
Penyembuhan juga dihambat oleh adanya benda asing atau jaringan nekrotik dalam luka, oleh adanya infeksi luka dan immobilisasi yang tidak sempurna.
Komplikasi pada penyembuhan luka kadang-kadang terjadi saat proses penyembuhan luka. Jaringan parut mempunyai sifat alami untuk memendek dan menjadi lebih padat, dan kompak setelah beberapa lama. Akibatnya adalah kontraktur yang dapat membuat dareah menjadi cacat dan pembatasan gerak pada persendian.
Komplikasi penyembuhan yang kadang-kadang dijumpai adalah amputasi atau neuroma traumatik, yang secara sederhana merupakan poliferasi regeneratif dari serabut-serabut saraf kedalam daerah penyembuhan dimana mereka terjerat pada jaringan parut yang padat.


F. Macam-Macam Penyakit Radang
  1. Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis).
  2. Radang Tenggorokan.
  3. Radang Lambung.
  4. Infeksi saluran kencing
  5. Penyakit Radang/Pembesaran Prostat.dll

G. Mekanisme Infeksi
Infeksi adalah masuknya kuman penyakit kedalam tubuh hingga menimbulkan gejala–gejala penyakit dan juga merupakan keadaan jaringan tubuh yang terpapar mikroorganisme baik oleh bakteri,virus,jamur maupun parasit. Sama seperti radang, infeksi dapat terjadi baik di permukaan luar tubuh maupun di permukaan rongga dalam tubuh.
Pada setiap luka pada jaringan akan timbul reaksi inflamasi atau reaksi vaskuler. Mula-mula terjadi dilatasi lokal dari arteriole dan kapiler sehingga plasma akan merembes keluar. Selanjutnya cairan edema akan terkumpul di daerah sekitar luka, kemudian fibrin akan membentuk semacam jala, struktur ini akan menutupi saluran limfe sehingga penyebaran mikroorganisme dapat dibatasi.
Pada proses inflamasi juga terjadi inflamasi juga terjadi phagositosis, mula-mula phagosit membungkus mikroorganisme, kemudian dimulailah digesti dalam sel. Hal ini akan mengakibatkan perubahan pH menjadi asam. Selanjutnya akann keluar protease selluler yang akan menyebabkan lysis leukosit. Setelah itu makrofak mononuklear besar akan tiba dilokasi infeksi untuk membungkus sisa-sisa leukosit. Dan akhirnya terjadi pencairan (resolusi) hasil proses inflamasi lokal.


H. Pembagian Infeksi:
  1. Primer
    Apabila terjadi secara langsung sebagai akibat dari proses yang ditimbulkan mikroorganisme sendiri.
  2. Sekunder
    Terjadi oleh sesuatu sebab, misalnya:kelemahan tubuh,kelaparan, kelelahan,luka dan sebagainya.
I. Macam-macam Infeksi lainnya
  1. Reinfeksi
    Penyakit yang mula-mula sudah sembuh tapi kemudian muncul lagi. Disebut juga “Residif”.
  2. Super Infeksi
    Proses penyakit belum sembuh akan tetapi sudah disusul oleh infeksi yang lain. Disebut juga “infeksi Ganda”.
  3. Infeksious
    Penyakit infeksi yang mudah menular dari seorang kepada orang lain. Disebut juga “Infeksiosa”.
  4. Epidemi
    Penyakit infeksi yang bersifat menular, kadang–kadang dapat menyerang orang bayak dalam waktu singkat.
  5. Pandemi
    Merupakan Epidemi yang menyebar ke Negara lain.
  6. Endemi
    Suatu penyakit yang terus–menerus secara menetap terdapat dalam daerah tertentu.

J. Stadium–stadium Infeksi
  1. Tahap Rentan
    Pada tahap ini individu masih dalam kondisi relatif sehat, namun peka atau labil, disertai faktor predisposisi yang mempermudah terkena penyakit, seperti umur, keadaan fisik, perilaku/kebiasaan hidup, sosial ekonomi, dll. faktor – fator predisposisi tersebut mempercepat masuknya agen penyebab penyakit (mikroba patogen) untuk berinteraksi dengan pejamu.
  2. Tahap Inkubasi
    Inkubasi disebut juga masa tunas, masa dari mulai masuknya kuman kedalam tubuh (waktu kena tular) sampai pada waktu penyakit timbul. Setiap penyakit berlainan masa ikubasinya. Penularan penyakit dapat terjadi selama masa inkubasi.
    Lamanya masa inkubasi dipengaruhi oleh:
    • Jenis mikroorganisme.
    • Virulensi atau ganasnya mikroorganisme dan Jumlah mikroorganisme.
    • Kecepatan berkembangbiaknya mikroorganisme dan Kecepatan pembentukan toksin dari mikroorganisme.
    • Porte de’entre (pintu masuk dari mikroorganisme).
    • Endogen (daya tahan host atau tuan rumah).
  3. Tahap Sakit
    Penderita dalam keadaan sakit.Merupakan tahap tergangunya fungsi organ yang dapat memunculkan tanda dan gejala (signs and symptoms) penyakit.Dalam perjalanannya penyakit akan berjalan bertahap.Pada tahap awal,tanda dan gejala penyakit masih ringan.Penderita masih mampu melakukan aktivitas harian dan masih dapat diatasi dnegan berobat jalan.Pada tahap lanjut,penyakit tidak dapat diatasi dengan berobat jalan,karena penyakit bertambah parah,baik secara obyektif maupun subyektif.Pada tahap ini penderita tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari-hari dan jika berobat umumnya membutuhkan perawatan.Penularan mikroorganisme melalui hidung,mulut,telinga,mata,urin,feses,sekret dari ulkus,luka,kulit,organ-organ dalam.
  4. Tahap Penyembuhan
    Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir pula. Perjalanan penyakit tersebut dapat berakhir dengan 5 alternatif:
    • Sembuh sempurna
      Penderita sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi sel/jaringan/organ tubuh kembali seperti sediakala.
    • Sembuh dengan cacat
      Penderita sembuh dari sakitnya namun disertai adanya kecacatan. Cacat dapat berbentuk cacat fisik, cacat mental, maupun cacat sosial.
    • Pembawa (carier)
      Perjalanan penyakit seolah-olah berhenti, ditandai dnegan menghilangnya tanda dan gejala penyakit. Pada kondisi ini agen penyebab masih ada dan masih potensial sebagai sumber penularan.
    • Kronis
      Perjalanan penyakit bergerak lambat, dengan tanda dan gejala yang tetap atau tidak berubah.
    • Meninggal dunia
      Akhir perjalanan penyakit dengan adanya kegagagalan fungsi-fungsi ogan.

Daftar Pustaka
Irwansyah, 2011. Makalah patologi umum radang. Diakses di http://irwansyah-hukum.blogspot.com/2011/09/makalah-patologi-umum-radang.html pada 09-03-2015 pukul 14:04 WIB
Aryaners, 2010. Pengertian radang dan proses terjadinya. Diakses di http://aryaners.blogspot.com/2010/04/pengertian-radang-dan-proses-terjadinya.html pada 09-03-2015 pukul 14:04 WIB
Mridwanmuchlis, 2010. Radang dan infeksi. Diakes di http://mridwanmuchlis.blogspot.com/2010/05/radang-dan-infeksi.html pada 09-03-2015 pukul 14:06 WIB