Asuhan Keperawatan Sindrom Guillan Barre



Definisi
Sindrom Guillan Barre (GBS) merupakan sindrom klinis yuang ditunjukkan oleh onset akut dari gejala-gejala yang mengenai saraf perifer dan cranial. Proses penyakit mencakup demielinasi dan degenerasi selaput myelin dari saraf perifer dan cranial (Arif Muttaqin, 2008).
GBS adalah suatu demielinasi polineuropati akut (di sebut juga polyneuritis idiopatik, paralisis asenden Landry, dan polineuropati inflamasi akut) yang terjadi gangguan neuron motorik bagian bawah dalam saraf perifer (Sylvia A. Price dan Lorrain M. Wilson, 2005).
GBS adalah gangguan kelemahan neuromuscular akut yang memburuk secara progresif yang dapat mengarah pada kelumpuhan total, tetapi biasanya paralisis sementara (Marilynn E. Doengoes, Mary F. Moorhouse dan Alice C. Geissler, 1999).

Etiologi
  1. Agen penyebab infeksi masih belum diketahui, tetapi respon alergi/respon autoimun sangat mungkin sekali
  2. Jenis penyakit lain yang mendahului sindrom tersebut adalah infeksi pernapasan ringan atau infeksi gastrointestinal, pembedahan, imunisasi.
  3. Keadaan pencetus yang paling sering dilaporkan adalah infeksi campylobacter jejuni, yang secara khas menyebabkan penyakit GI yang ditandai dengan diare, nyeri abdomen dan demam.

Manifestasi Klinik
• gejala patologis yang utama adalah berkurangnya myelin pada saraf perifer
• gejala muncul 1-3 minggu setelah infeksi virus
• kelemahan otot baik kelemahan fisik secara umum maupun local : melemahnya otot-otot pernapasan
• gejala sensorik : diawali parestisia (kesemutan kebas) dan kelemahan otot kaki yang dapat berkembang ke ekstremitas atas, batang tubuh, dan otot wajah, penurunan kemampuan penilaian sensorik : rasa nyeri, mati rasa, dan suhu
• disertai gangguan saraf otonom  : TD meningkat (hipertensi transient), berkeringat banyak karena terjadinya penurunan reaksi saraf simpatis dan parasimpatis
• penurunan frekuensi pernapasan karena melemahnya fungsi otot-otot pernapasan
• mual sampai muntah, terjadi peningkatan produksi asam lambung
• bila saraf cranial terlibat :
  • pada saraf III,IV dan VI : terjadi penurunan kemampuan membuka dan menutup kelopak mata, paralisis ocular
  • pada saraf V : pada pasien GBS didapatkan paralisis pada otot wajah sehingga mengganggu proses mengunyah
  • pada saraf VII : wajah asimetris karena adanya paralisis unilateral
  • pada saraf  IX dan X : paralisis orofaring, kesulitan berbicara, mengunyah dan menelan. Kemampuan menelan kurang baik sehingga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral

Komplikasi
  • Gagal napas, terjadi bila paru tidak dapat melakukan pertukaran gas sebagai fungsi primernya, yaitu oksigenasi darah arteri dan eliminasi CO2.
  • Disritmia jantung, terjadi ketidakseimbangan pada salah satu sifat dasar jantung. Ketidakseimbagan dapat disebabkan oleh aktifitas normal seperti latihan atau oleh kondisi patologis.
  • Emboli paru, terjadi apabila suatu embolus, biasanya merupakan bekuan darah yang terlepas dari perlekatannya pada vena ekstremitas bawah, lalu bersirkulasi melalui pembuluh darah dan jantung kanan sehingga akhirnya tersangkut pada arteri pulmonalis utama atau pada salah satu percabangannya.

Patofisiologi
Akson bermielin mengonduksi implus saraf lebih cepat dibanding akson tidak bermielin. Sepanjang perjalanan serabut bermielin terjadi gangguan dalam selaput (nodus Ranvier) tempat kontak langsung antara membrane sel akson dengan cairan ekstraseluler. Membrane sangat permiabel pada nodus tersebut, sehingga konduksi menjadi baik.
Gerakan ion masuk dan keluar akson dapat terjadi dengan cepat banyak pada nodus Ranvier, sehingga implus saraf sepanjang serabut bermielin dapat meelompat dari satu nodus ke nodus lain (konduksi saltatori) dengan cukup kuat. Kehilangan selaput pada GBS membuat konduksi saltatori tidak mungkin terjadi dan tranmisi implus saraf dibatalkan.


Prognosis
  • Sebagian besar orang yang mengalami kelemahan terberat dalam 2 minggu pertama setelah awitan gejala ; pada minggu ketiga, 90% dari semua pasien berada pada tingkat yang paling lemah
  • Periode penyembuhan sangat bervariasi : dari beberapa minggu atau hingga beberapa tahun
  • Sekitar 30% pasien GBS mengalami beberapa kelemahan sisa setelah 3 tahun ; kelumpuhan otot berulang yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya dan parestesia bertahun-tahun setelah serangan akut

Penatalaksanaan 
  • Ventilasi mekanik bila terjadi paralisis pernapasan
  • Fisioterapi dada suction endotracheal bila kemampuan batuk hilang
  • Pasang NGT bila klien tidak bisa menelan
  • Analgetik untuk mengatasi nyeri
  • Lakukan Fisioterapi intensif untuk mencegah kontraktur otot dan sendi, jika gerakan voluntar otot rangka kembali
  • Pemberian propanolol untuk mencegah takikardi dan hipertensi pada Disritmia jantung
  • Atropine dapat diberikan untuk menghindari episode bradikardi selama pengisapan endotrakel
  • Pemantauan EKG secara kontinue
  • Terapi intravena untuk meningkatkan volume dan memperbaiki hypotensi
  • Pemberian imunoglobulin dosis tinggi melalui IV
  • Plasmaferesis ( pertukaran plasma untuk tujuan terapeutik )
  • Imobilitas
 
Pemeriksaan Diagnostik
  • Lumbal Pungsi : dapat menunjukkan kadar protein normal pada awalnya dengan kenaikan pada minggu ke-4 sampai ke-6. Cairan spinal memperlihatkan adanya peningkatan konsentrasi protein dengan menghitung jumlah sel normal
  • Elektromiografi : pemeriksaan konduksi saraf mencatat transmisi implus sepanjang serabut saraf. Pengujian elektrofisiologis diperlihatkan dalam bentuk lambatnya laju konduksi saraf
  • Darah Lengkap : terlihat adanya leukositosis pada fase awal
  • Foto Ronsen : dapat memperlihatkan berkembangnya tanda-tanda dari gangguan pernapasan, seperti : atelaktasis,  pneumonia
  • Pemeriksaan fungsi paru : dapat menunjukkan adanya penurunan kapasitas vital, volume tidal, dan kemampuan inspirasi

ASUHAN KEPERAWATAN GBS
A. Pengkajian
1. Aktivitas/istirahat
Gejala : Adanya kelemahan dan paralisis secara simetris yang biasanya dimulai dari ekstremitas bagian bawah dan selanjutnya berkembang dengan cepat kearah atas.
Tanda : Kelemahan otot, paralisis flaksid (simetris). Cara berjalan tidak mantap.
2. Sirkulasi
Tanda : perubahan TD (hipertensi atau hipotensi), disritmia, takikardi/bradikardi, wajah kemerahan, diaphoresis
3. Integritas Ego
Gejala : Perasaan cemas dan terlalu berkonsentrasi pada masalah yang dihadapi
Tanda : Tampak takut dan bingung
4. Eliminasi
Gejala : Adanya perubahan eliminasi
Tanda : Kelemahan pada otot-otot abdomen, hilangnya sensasi anal (anus) atau berkemih dan reflek sfingter
5. Makanan/cairan
Gejala : Kesulitan dalam mengunyah dan menelan
Tanda : Gangguan pada reflek menelan atau reflek gag
6. Neurosensori
Gejala : Kebas, kesemutan yang dimulai dari kaki atau  jari-jari kaki dan selanjutnya terus naik (distribusi stoking atau sarung tangan)
Tanda : Hilangnya/menurunnya reflek tendon dalam, hilangnya tonus otot, adanya masalah dengan keseimbangan, adanya kelemahan pada otot-otot wajah, terjadi ptosis kelopak mata (keterlibatan saraf cranial), kehilangan kemampuan untuk berbicara
7. Nyeri/keamanan
Gejala : Nyeri tekan otot ; seperti  terbakar, mengganggu, sakit, nyeri (terutama pada bahu, pelvis, pinggang, punggung dan bokong), hipersensitif terhadap sentuhan
8. Pernapasan
Gejala : Kesulitan dalam bernapas, napas pendek
Tanda : Pernapasan perut menggunakan otot bantu napas, apnea. Penurunan/hilangnya bunyi napas. Menurunnya kapasitas vital paru. Pucat/sianosis. Gangguan reflex gag/menelan/batuk
9. Keamanan
Gejala : Infeksi virus nonspesifik (seperti ISPA) kira-kira 2 minggu sebelum munculnya tanda serangan
Tanda : Suhu tubuh yang berfluktuasi (sangat tergantung pada suhu lingkungan). Penurunan kekuatan/tonus otot, paralisis atau parestesia.
10. Interaksi Sosial
Tanda : Kehilangan kemampuan untuk berbicara/berkomunikasi
11. Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : Penyakit sebelumnya (ISPA, gastroenteritis) ; vaksinasi (campak, influensi, polio) ; keadaan kronis (lupus eritematosus, penyakit Hodgkin/proses keganasan) ; pembedahan/anastesia umum, trauma

B. Diagnosa Keperawatan
  1. Tidakefektif pola napas b.d paralisis otot
  2. Tidakefektif bersihan jalan napas b.d akumulasi secret, kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran
  3. Risiko tinggi penurunan curah jantung b.d perubahan frekuensi jantung ritme, irama bradikardi
  4. Risiko perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan  tubuh b.d ketidakmampuan menelan
  5. Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuscular, penurunan tonus otot, penurunan kesadaran
  6. Gangguan persepsi sensori b.d kerusakan penerima rangsang sensori, transmisi sensori dan integrasi sensori
  7. Ansietas b.d kondisi sakit dan perubahan dalam status kesehatan
C.    Perencanaan
Tujuan utama pada asuhan keperawatan klien mencakup mempertahankan fungsi pernapasan, mencapai mobilitas, terpenuhinya kebutuhan nutrisi normal, mampu berkomunikasi, menurunnya ketakutan dan ansietas.

D.    Intervensi
1.    Tidakefektif pola napas b.d paralisis otot
  • Kaji fungsi paru, adanya bunyi napas tambahan, perubahan irama dan kedalaman, penggunaan otot-otot aksesori
  • Evaluasi keluhan sesak napas, baik secara verbal/nonverbal
  • Beri ventilasi mekanik
  • Lakukan pemeriksaan kapasitas vital pernapasan
  • Kolaborasi : pemberian humidifikasi O2 3 ltr/mnt
2.    Tidakefektif bersihan jalan napas b.d akumulasi secret, kemampuan batuk menurun akibat penurunan kesadaran
  • Pantau frekuensi, kedalaman dan kesimetrisan pernapasan. Catat peningkatan kerja napas dan observasi warna kulit dan membrane mukosa
  • Catat adanya kelelahan pernapasan selama berbicara (jika sadar dan dapat bicara)
  • Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi atau suara tambahan ; ronki, mengi
  • Tinggikan kepala tempat tidur atau letakkan pasien pada posisi duduk bersandar
  • Evaluasi reflek batuk, reflek menelan secara periodic. Catat warna secret
  • Pantau kapasitas vital, volume tidal dan kekuatan pernapasan sesuai kebutuhan
  • Ajarkan teknik relaksasi (jika sadar)
  • Kolaborasi : Lakukan fisioterapi dada jika ada indikasi dan berikan O2
3.    Risiko tinggi penurunan curah jantung b.d perubahan frekuensi jantung ritme, irama bradikardi
  • Observasi TTV
  • Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi
  • Catat adanya murmur
  • Pantau frekuensi jantung dan irama
  • Kolaborasi : berikan O2 tambahan sesuai indikasi
4.    Risiko perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan  tubuh b.d ketidakmampuan menelan
  • Kaji kemampuan klien dalam pemenuhan nutrisi oral
  • Monitor komplikasi akibat paralisis akibat insufisiensi aktifitas parasimpatis
  • Kaji kemampuan untuk mengunyah dan menelan, batuk pada keadaan yang teratur
  • Berikan nutrisi via selang ansogastrik/ NGT
  • Berikan nutrisi via oral bila paralisis menelan berkurang
5.    Hambatan mobilitas fisik b.d kerusakan neuromuscular, penurunan tonus otot, penurunan kesadaran
  • Dekatkan alat dan sarana yang dibutuhkan klien dalam pemenuhan aktifitas sehari-hari
  • Lakukan latihan rentang gerak pasif
  • Hindari factor yang memungkinkan terjadinya trauma pada saat klien melakukan mobilisasi
  • Sokong ekstremitas dan persendian dengan bantal/papan kaki yang mengalami paralisis
  • Monitor komplikasi hambatan mobilitas fisik
  • Kolaborasi dengan tim fisioterapis
6.    Gangguan persepsi sensori b.d kerusakan penerima rangsang sensori, transmisi sensori dan integrasi sensori
  • Pantau status neurologis secara periodic (seperti kemampuan berbicara, berespon pada perintah sederhana, dan berespon pada stimulasi nyeri : kesadaran akan rasa panas/dingin, tumpul/tajam)
  • Berikan alternative cara untuk berkomunikasi jika pasien tidak dapat bicara (nonverbal), seperti : metode kedipan, dengan papan bergambar, kertas atau dengan huruf-huruf
  • Berikan stimulasi sensori yang sesuai : suara musik yang lembut
7.    Ansietas b.d kondisi sakit dan perubahan dalam status kesehatan
  • Bantu klien mengekspresikan rasa marah, kehilangan, dan takut
  • Kaji tanda verbal dan nonverbal ansietas, damping klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak
  • Hindari konfrontasi
  • Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat
  • Tingkatkan control sensasi klien
  • Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktifitas yang diharapkan
  • Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan ansietasnya
  • Berikan privasi untuk klien dan orang terdekat
E. Evaluasi
Hasil yang diharapkan :
1.    Mempertahankan pernapasan efektif dan bersihan jalan napas
a.    Bunyi napas normal pada auskultasi
b.    Memperlihatkan peningkatan fungsi respiratori bertahap
2.    Penurunan curah jantung tidak terjadi,
a.    TD dalam batas normal,
b.    curah jantung kembali meningkat, input dan output sesuai,
c.    tidak menunjukkan tanda-tanda disritmia
3.    Pemenuhan nutrisi klien terpenuhi, tidak terjadi komplikasi penurunan asupan nutrisi
4.    Memperlihatkan peningkatan mobilisasi
a.    Mampu menggunakan ekstremitas kembali
b.    Berpartisipasi dalam program rehabilitasi
5.    Memperlihatkan kemampuan menelan, berkomunikasi, respon stimulus nyeri, dan dapat merasakan/membedakan rasa
6.    Meredanya ansietas dan rasa takut


Daftar Pustaka
  1. Muttaqin Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
  2. Jakarta : Salemba Medika
  3. Brunner & Suddarth, Vol. 3, 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
  4. Doenges MA, et all, Edisi 3, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
  5. Price SA, Lorraine MW. 2005.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta:EGC
  6. Watson Roger, Edisi 10, 2002. Anatomi & Fisiologi. Jakarta : EGC