Asuhan Keperawatan Diabetes Mellitus



A. Pengertian
Diabetes Mellitus (DM) adalah keadaan hipoglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf, dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dalam pemeriksaan mikroskop elektron.
Paling sedikit terdapat 3 bentuk DM berdasarkan penyebab perjalanan klinik dan terapinya, antara lain:
1. Diabetes Mellitus Tipe I
Adalah penyakit hiperglikemia akibat ketidak adaan absolut insulin. Penyakit ini disebut Diabetes Mellitus Dependen Insulin (DMDI). Pengidap penyakit ini harus mendapat insulin pengganti. Diabetes tipe ini biasanya dijumpai pada orang yang tidak gemuk berusia kurang dari 30 tahun, dengan perbandingan laki-laki sedikit lebih banyak dari pada wanita. Karena insiden Diabetes Mellitus tipe I memuncak pada usia remaja dini, maka dahulu bentuk ini disebut sebagai Diabetes Juvenilis. Namun, Diabetes tipe I ini dapat timbul pada semua umur.
2. Diabetes Mellitus Tipe II
Penyakit hipoglikemia akibat insensifisitas sel terhadap insulin. Kadar insulin mungkin sedikit menurun atau berada dalam rentang normal. Karena insulin tetap dihasilkan oleh sel-sel beta pangkreas, maka dianggap Non Insulin Dependen Diabetes Mellitus (NIDDM). Diabetes Mellitus tipe II biasanya timbul pada orang berusia lebih dari 30 tahun, dan dahulu disebut sebagai Diabetes Awitau dewasa, pasien wanita lebih banyak dari pria.
3. Diabetes Gestasional
Diabetes Gestasional terjadi pada wanita hamil yang sebelumnya tidak mengidap Diabetes. Sekitar 50% wanita pengidap kelainan ini akan kembali ke status non Diabetes setelah kehamilan berakhir. Namun, resiko mengalami Diabetes tipe II pada waktu mendatang lebih besar dari pada normal.


B. Etiologi
1. Diabetes tipe I
Diabetes tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta pangkreas. Komunikasi faktor genetik, imunologi dan mungkin pula lingkungan (misalnya infeksi virus) diperkirakan turut menimbulkan destruksi sel beta.
2. Diabetes tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada Diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor resiko tertentu yang berhubungan dengan proses terjadinya
Diabetes tipe II. Faktor tersebut adalah:
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
d. Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispank serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya Diabetes tipe II dibandingkan dengan golongan Afro-Amerika).


C. Patofisiologi
1. Diabetes Tipe I
Pada Diabetes tipe I terdapat ketidak mampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pangkreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial (sesudah makan).
Jika konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan dieksresikan ke dalam urin, eksresi akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan, keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang berlebihan, pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia).
Defisiensi insulin juga terganggu, metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan penurunan berat badan. Pasien dapat mengalami peningkatan selera makan (polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala lain mencakup kelelahan dan kelemahan.
2. Diabetes Tipe II
Pada Diabetes tipe II ini terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu: resistansi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di dalam sel. Resistensi insulin pada Diabetes tipe II disertai dengan penurunan reaksi intra sel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan.
Untuk mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu. Keadaan ini terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan, dan keadaan glukosa akan dipertahankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi Diabetes tipe II.
3. Diabetes Gestasional
Terjadi pada wanita yang tidak menderita Diabetes sebelum kehamilannya. Hiperglikemia terjadi selama kehamilan akibat sekresi hormon-hormon plesenta. Semua wanita hamil harus menjalani skrining pada usia kehamilan 24-24 mgg untuk mendeteksi kemungkinan Diabetes.


D. Tanda dan gejala
Menurut Price (1995) manifestasi klinis dari DM adalah sebagai berikut :
1. DM tergantung insulin / DM Tipe I
Memperlihatkan gejala yang eksplosif dengan polidipsi, poliuri, polifagia, turunnya BB, lemah, mengantuk yang terjadi selama sakit atau beberapa minggu, penderita menajdi sakit berat dan timbul ketosidosis dan dapat meninggal kalau tidak mendapatkan pengobatan dengan segera, biasanya diperlukan terapi insulin untuk mengontrol metabolisme dan umumnya penderita peka terhadap insulin.

2. DM tidak tergantung insulin / DM Tipe II
Penderita mungkin sama sekali tidak memperlihatkan gejala apapun, pada hiperglikemia yang lebih berat, mungkin memperlihatkan polidipsi, poliuri, lemah, dan somnolen, biasanya tidak mengalami ketoasidosis, kalau hiperglikemia berat dan idak respon terhadap terapi diet mungkin diperlukan terapi insulin untuk menormalkan kadar glukosanya. Kadar insulin sendiri mungkin berkurang normal atau mungkin meninggi tetapi tidak memadai untuk mempertahankan kadar glukosa darah normal. Penderita juga resisten terhadap insulin eksogen.


E. Upaya pencegahan
  1. Melakukan penyuluhan bagi masyarakat mengenai diet yang benar.
  2. Membatasi makanan yang banyak mengandung glukosa yang berlebih.
  3. Olahraga yang teratur dapat melancarkan sirkulasi darah dan tonus otot.
  4. Melakukan pemantauan kadar glukosa.


F. Penatalaksanaan Medis
Dalam jangka pendek penatalaksanaan Diabetes Mellitus bertujuan untuk menghilangkan keluhan/gejala Diabetes Mellitus. Sedangkan tujuan jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa, lipid, dan insulin. Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengerjakan kegiatan mandiri.
Kerangka utama penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu perencanaan makanan, latihan jasmani, obat hipoglikemik dan penyuluhan.
1. Perencanaan Makan (Meal Planning)
Pada konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) telah ditetapkan bahwa standar yang dianjurkan adalah santapan dengan komposisi seimbang berupa karbohidrat (60-70%), protein (10-15%), dan lemak (20-25%). Apabila diperlukan santapan dengan komposisi karbohidrat sampai 70-75%) juga memberikan hasil yang baik, terutama untuk golongan ekonomi rendah. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stress akut, dan kegiatan jasmani untuk mencapai berat badan ideal. Jumlah kandungan kolesterol <300 mg/hr, jumlah kandungan serat ±25 g/hr, dan utamnya jenis serat larut. Konsumsi garam dibatasi bila terdapat hipertensi, pemanis dapat digunakan secukupnya.
2. Latihan Jasmani
Dianjurkan latihan jasmani teratur, 3-4 kali tiap minggu selama ±0,5 jam yang sifatnya sesuai CRIPE (Continuous, Rhytmical, Interval, Progressive, Endurance training).
Latihan dilakukan terus menerus tanpa berhenti, otot-otot berkontraksi dan relaksasi secara teratur, selang-seling antara gerak cepat dan lambat, berangsur-angsur dari sedikit ke latihan yang lebih berat secara bertahap dan bertahan dalam waktu tertentu. Latihan yang dapat dijadikan pilihan adalah jalan kaki, jogging, lari, renang, bersepeda, dan mendayung.
Sedapat mungkin mencapai zona sasaran atau zona latihan, yaitu 75-85% denyut nadi maksimal. Denyut nadi maksimal (DNM) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut:
DNM = 220 – umur (dalam tahun)
Hal yang perlu diperhatikan dalam latihan jasmani ini adalah jangan memulai olahraga sebelum makan, memakai sepatu yang pas, harus didampingi oleh orang yang tahu mengatasi serangan hipoglikemia, harus selalu membawa permen, membawa tanda pengenal sebagai pasien Diabetes Mellitus dalam pengobatan, dan memeriksa kaki secara cermat setelah olahraga.
3. Obat berkhasiat Hipoglikemik
Jika pasien telah melakukan pengaturan makanan dan kegiatan jasmani yang teratur tetapi kadar glukosa darahnya masih belum baik, dipertimbangkan pemakaian obat berkhasiat hipoglikemik (oral/suntikan).
Obat Hipoglikemik Oral (OHO)
a. Sulfonilurea
Obat golongan sulfonilurea bekerja dengan cara:
  • Menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan
  • Menurunkan ambang sekresi insulin
  • Meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa

b. Biguanid
Menurunkan kadar glukosa darah tapi tidak sampai di bawah normal. Preparat yang ada dan aman adalah metformin. Obat ini dianjurkan untuk pasien gemuk (Indeks Massa Tubuh /IMT >30) sebagai obat tunggal. Pada pasien dengan berat lebih (IMT 27-30) dapat dikombinasi dengan obat golongan sulfonilurea.
c. Inhibitor a glukosidase
Obat ini bekerja secara kompetitif menghambat kerja enzim a glukosidase di dalam saluran cerna sehingga menurunkan penyerapan glukosa dan menurunkan hiperglikemia pascaprandial.
d. Insulin serositizing agent
Thoazolidinediones adalah golongan obat baru yang mempunyai efek farmakologi meningkatkan sensivitas insulin, sehingga bisa mengatasi masalah resistensi insulin dan berbagai masalah akibat resistensi insulin tanpa menyebabkan hipoglikemia. Obat ini belum beredar di Indonesia.
Insulin
Indikasi penggunaan insulin pada NIDDN adalah:

a. Diabetes Mellitus dengan berat badan menurun cepat / kurus.
b. Ketoasidosis, asidosis laktat, dan koma hiperosmolar.
c. Diabetes Mellitus yang mengalami stress berat (infeksi sistemik, operasi berat, dan lain-lain).
d. Diabetes Mellitus dengan kehamilan / Diabetes Mellitus Gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan.
e. Diabetes Mellitus yang tidak berhasil dikelolah dengan obat hipoglikemik oral dosis maksimal atau ada kontraindikasi dengan obat tersebut.

Dosis insulin oral atau suntikan dimulai dengan dosis rendah lalu dinaikkan perlahan-lahan sesuai dengan hasil glukosa darah pasien.


KONSEP KEPERAWATAN
A. Pengkajian Keperawatan
Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ.
  1. Aktivitas / Istirahat
    Gejala : Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan. Kram otot, tonus otot menurun. Gangguan tidur/istirahat.
    Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan aktivitas. Letargi/disorientasi, koma. Penurunan kekuatan otot.
  2. Sirkulasi
    Gejala : Adanya riwayat hipertensi; IM akut. Klaudikasi, kebas, dan kesemutan pada ekstremitas. Ulkus pada kaki, penyembuhan yang lama.
    Tanda : Takikardia. Perubahan tekanan darah postural; hipertensi. Nadi yang menurun/tak ada. Disritmia. Krekels; DVJ (GJK). Kulit panas, kering, dan kemerahan; bola mata cekung.
  3. Integritas Ego
    Gejala : Stres; tergantung pada orang lain. Masalah finansial yang berhubungan dengan kondisi.
    Tanda : Ansietas, peka rangsang.
  4. Eliminasi
    Gejala : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia. Rasa nyeri/terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru/berulang. Nyeri tekan abdomen. Diare.
    Tanda : Urine encer, pucat, kuning; poliuri (dapat berkembang menjadi oliguria/anuria jika terjadi hipovolemia berat). Urine berkabut, bau busuk (infeksi). Abdomen keras, adanya asites. Bising usus lemah dan menurun; hiperaktif (diare).
  5. Makanan / Cairan
    Gejala : Hilang nafsu makan. Mual/muntah. Tidak mengikuti diet; peningkatan masukan glukosa/karbohidrat. Penurunan berat badan lebih dari periode beberapa hari/minggu. Haus. Penggunaan diuretik (tiazid).
    Tanda : Kulit kering/bersisik, turgor jelek. Kekakuan/distensi abdomen, muntah. Pembesaran tiroid (peningkatan kebutuhan metabolik dengan peningkatan gula darah). Bau halitosis/manis, bau buah (napas aseton).
  6. Neurosensori
    Gejala : Pusing/pening. Sakit kepala. Kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia. Gangguan penglihatan.
    Tanda : Disorientasi; mengantuk, letargi, stupor/koma (tahap lanjut). Gangguan memori (baru, masa lalu); kacau mental. Refleks tendon dalam (RTD) menurun (koma).
  7. Nyeri / Kenyamanan
    Gejala : Abdomen yang tegang/nyeri (sedang/berat).
    Tanda : Wajah meringis dengan palpitasi; tampak sangat berhati-hati.
  8. Pernapasan
    Gejala : Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergantung adanya infeksi/tidak).
    Tanda : Lapar udara. Batuk, dengan/tanpa sputum purulen (infeksi). Frekuensi pernapasan.
  9. Keamanan
    Gejala : Kulit kering, gatal; ulkus kulit.
    Tanda : Demam, diaforesis. Kulit rusak, lesi/ulserasi. Menurunnya kekuatan umum/rentang gerak. Parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernapasan (jika kadar kalium menurun dengan cukup tajam).
  10. Seksualitas
    Gejala : Rabas vagina (cenderung infeksi). Masalah impoten pada pria; kesulitan orgasme pada wanita.
  11. Penyuluhan / Pembelajaran
    Gejala : Faktor risiko keluarga; DM, penyakit jantung, stroke, hipertensi. Penyembuhan yang lambat. Penggunaan obat seperti steroid, diuretik (tiazid); dilantin dan fenobarbital (dapat meningkatkan kadar glukosa darah). Mungkin atau tidak memerlukan obat diabetik sesuai pesanan.
    Pertimbangan Rencana Pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam pengaturan diet, pengobatan, perawatan diri, pemantauan terhadap glukosa darah.


B. Diagnosa Keperawatan
  1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia); kehilangan gastrik berlebihan: diare, muntah; masukan dibatasi: mual, kacau mental.
  2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin; penurunan masukan oral; status hipermetabolisme.
  3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi leukosit, perubahan pada sirkulasi.
  4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik; perubahan kimia darah: insufisiensi insulin; peningkatan kebutuhan energi: status hipermetabolik/infeksi.
  5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi; tidak mengenal sumber informasi.


C. Tujuan dan Kriteria Hasil
  1. Mendemonstrasikan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urine tepat secara individu, dan kadar elektrolit dalam batas normal.
  2. Mencerna jumlah kalori/nutrien yang tepat. Menunjukkan tingkat energi biasanya. Mendemonstrasikan berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya/yang diinginkan dengan nilai laboratorium normal.
  3. Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah/menurunkan risiko infeksi. Mendemonstrasikan teknik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi.
  4. Mengungkapkan peningkatan tingkat energi. Menunjukkan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
  5. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit. Melakukan perubahan gaya hidup dan berpartisipasi dalam program pengobatan.


D. Rencana Tindakan Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dari hiperglikemia); kehilangan gastrik berlebihan: diare, muntah; masukan dibatasi: mual, kacau mental.
Intervensi :
  • Dapatkan riwayat pasien/orang terdekat sehubungan dengan lamanya/intensitas dari gejala seperti muntah, pengeluaran urine yang sangat berlebihan.
    Rasional :
    Membantu dalam memperkirakan kekurangan volume total. Adanya proses infeksi mengakibatkan demam dan keadaan hipermetabolik yang meningkatkan kehilangan air tidak kasatmata.
  • Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik.
    Rasional :
    Hipovolemia dapat dimanifestasikan oleh hipotensi dan takikardia.
  • Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit, dan membran mukosa.
    Rasional :
    Merupakan indikator dari tingkat dehidrasi, atau volume sirkulasi yang adekuat.
  • Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine.
    Rasional :
    Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti, fungsi ginjal, dan keefektifan dari terapi yang diberikan.
  • Ukur berat badan setiap hari.
    Rasional :
    Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dari status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam memberikan cairan pengganti.
  • Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang ditoleransi jantung jika pemasukan melalui oral sudah dapat diberikan.
    Rasional :
    Mempertahankan hidrasi/volume sirkulasi.
  • Kolaborasi pemberian terapi cairan sesuai dengan indikasi.
    Rasional :
    Tipe dan jumlah dari cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respons pasien secara individual.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakcukupan insulin; penurunan masukan oral; status hipermetabolisme.
Intervensi :
  • Timbang berat badan setiap hari atau sesuai sesuai dengan indikasi.
    Rasional :
    Mengkaji pemasukan makanan yang adekuat (termasuk absorpsi dan utulisasinya).
  • Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
    Rasional :
    Mengidentifikasi kekurangan dan penyimpangan dari kebutuhan terapeutik.
  • Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen/perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
    Rasional :
    Hiperglikemia dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dapat menurunkan motilitas/fungsi lambung (distensi atau ileus paralitik) yang akan mempengaruhi pilihan intervnesi.
  • Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui pemberian cairan melalui oral. Dan selanjutnya terus mengupayakan pemberian makanan yang lebih padat sesuai yang dapat ditoleransi.
    Rasional :
    Pemberian makanan melalui oral lebih baik jika pasien sadar dan fungsi gastrointestinal baik.
  • Observasi tanda-tanda hipoglikemia. Seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala, pusing, sempoyongan.
    Rasional :
    Karena metabolisme karbohidrat mulai terjadi (gula darah akan berkurang, dan sementara tetap diberikan insulin maka hipoglikemia dapat terjadi).
  • Kolaborasi pemeriksaan gula darah dengan menggunakan “finger stick”.
    Rasional :
    Analisa di tempat tidur terhadap gula darah lebih akurat (menunjukkan keadaan saat dilakukan pemeriksaan) dari pada memantau gula darah urine (reduksi urin) yang tidak cukup akurat untuk mendeteksi fluktuasi kadar gula darah dan dapat dipengaruhi oleh ambang ginjal pasien secara individual atau adanya retensi urine/gagal ginjal.
  • Kolaborasi pengobatan insulin secara teratur dengan metode IV secara intermitten atau secara kontinu. Seperti bolus IV diikuti dengan tetesan yang kontinu melalui alat pompa kira-kira 5-10 UI/jam sampai glukosa darah mencapai 250 mg/dL.
    Rasional :
    Insulin reguler memiliki awitan cepat dan karenanya dengan cepat pula dapat memindahkan glukosa ke dalam sel. Pemberian melalui IV merupakan rute pilihan utama karena absorpsi dari jaringan subkutan mungkin tidak menentu/sangat lambat.
  • Lakukan konsultasi dengan ahli diet.
    Rasional :
    Sangat bermanfaat dalam perhitungan dan penyesuaian diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien.
  • Berikan diet kira-kira 60% karbohidrat, 20% protein dan 20% lemak dalam penataan makan/pemberian makanan tambahan.
    Rasional :
    Kompleks karbohidrat menurunkan kadar glukosa/kebutuhan insulin, menurunkan kadar kolesterol darah dan meningkatkan rasa kenyang.
3. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan kadar glukosa tinggi, penurunan fungsi leukosit, perubahan pada sirkulasi.
Intervensi :
  • Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan, seperti demam, kemerahan, adanya pus pada luka, sputum purulen, urine warna keruh atau berkabut.
    Rasional :
    Pasien mungkin masuk dengan infeksi yang biasanya telah mencetuskan keadaan ketoasidosis atau dapat mengalami infeksi nosokomial.
  • Tingkatkan upaya pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada semua orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasiennya sendiri.
    Rasional :
    Mencegah timbulnya infeksi silang (infeksi nosokomial).
  • Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif (seperti pemasangan infus, kateter folley dan sebagainya), pemberian obat IV dan memberikan perawatan pemeliharaan. Lakukan pengobatan melalui IV sesuai indikasi.
    Rasional :
    Kadar glukosa yang tinggi dalam darah akan menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.
  • Ajarkan pasien wanita untuk membersihkan daerah perinealnya dari depan kearah belakang setelah eliminasi.
    Rasional :
    Mengurangi terjadinya infeksi saluran kemih.
  • Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh, masase daerah tulang yang tertekan, jaga kulit tetap kering, linen kering dan tetap kencang (tidak berkerut).
    Rasional :
    Sirkulasi perifer bisa terganggu yang menempatkan pasien pada peningkatan risiko terjadinya kerusakan pada kulit/iritasi kulit dan infeksi.
  • Bantu pasien untuk melakukan higiene oral.
    Rasional :
    Menurunkan risiko terjadinya penyakit mulut/gusi.
  • Anjurkan untuk makan dan minum adekuat (pemasukan makanan dan cairan yang adekuat) (kira-kira 3000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi).
    Rasional :
    Meningkatkan aliran urin untuk mencegah urine yang statis dan membantu dalam mempertahankan pH/keasaman urine, yang menurunkan pertumbuhan bakteri dan pengeluaran organisme dari sistem organ tersebut.
  • Kolaborasi pemberian obat antibiotik yang sesuai.
    Rasional :
    Penanganan awal dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.
4. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik; perubahan kimia darah: insufisiensi insulin; peningkatan kebutuhan energi: status hipermetabolik/infeksi.
Intervensi :
  • Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas. Buat jadwal perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan.
    Rasional :
    Pendidikan dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin sangat lemah.
  • Berikan aktivitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup/tanpa diganggu.
    Rasional :
    Mencegah kelelahan yang berlebihan.
  • Pantau nadi, frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum/sesudah melakukan aktivitas.
    Rasional :
    Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis.
  • Diskusikan cara menghemat kalori selama mandi, berpindah tempat dan sebagainya.
    Rasional :
    Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan.
  • Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat ditoleransi.
    Rasional :
    Meningkatkan kepercayaan diri/harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang pemajanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi; tidak mengenal sumber informasi.
Intervensi :
  • Ciptakan lingkungan saling percaya dengan mendengarkan penuh perhatian, dan selalu ada untuk pasien.
    Rasional :
    Menanggapi dan memperhatikan perlu diciptakan sebelum pasien bersedia mengambil bagian dalam proses belajar.
  • Pilih berbagai strategi belajar, seperti teknik demonstrasi yang memerlukan keterampilan dan biarkan pasien mendemonstrasikan ulang.
    Rasional :
    Penggunaan cara yang berbeda tentang mengakses informasi meningkatkan penerapan pada individu yang belajar.
  • Diskusikan topik-topik utama, seperti: kadar glukosa normal, rasional terjadinya serangan ketoasidosis, komplikasi penyakit akut dan kronis.
    Rasional :
    Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pertimbangan dalam memilih gaya hidup.
  • Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi serat dan cara untuk makan di luar rumah.
    Rasional :
    Kesadaran tentang pentingnya kontrol diet akan membantu pasien dalam merencanakn makan/mentaati program.
  • Tekankan pentingnya mempertahankan pemeriksaan gula darah setiap hari, waktu dan dosis obat, diet, aktivitas, perasaan/sensasi dan peristiwa dalam hidup.
    Rasional :
    Membantu dalam menciptakan gambaran nyata dari keadaan pasien untuk melakukan kontrol penyakitnya dengan lebih baik dan meningkatkan perawatan diri/kemandiriannya.
  • Diskusikan faktor-faktor yang memegang peranan dalam kontrol DM tersebut, seperti latihan, stres, pembedahan dan penyakit tertentu.
    Rasional :
    Informasi ini akan meningkatkan pengendalian terhadap DM dan dapat sangat menurunkan berulangnya kejadian ketoasidosis.


E. Evaluasi
  1. Volume cairan adekuat.
  2. Nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh.
  3. Tidak terjadi infeksi.
  4. Tidak terjadi kelelahan.
  5. Memahami tentang penyakit, pencegahan dan pengobatannya.

 
DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddart. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 Vol 2 Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2001.
Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Edisi 3 Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2000.
Elisabet J. Corwin. Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2000.
Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Edisi 6 Vol 1 Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2005.
Sjaifoellah Noer, dkk. Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3 Jilid 1 Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 1996.



Password : www.ilmukeperawatan.info