Asuhan Keperawatan Ca Ekstraksi Vacum



A. Pengertian
Ektraksi Vacum adalah persalinan janin dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tekanan negative pada kepalanya dengan menggunakan ekstraktor vakum ( ventouse ) dari malstrom.
Alat yang umumnya digunakan adalah vacum ekstraktor  dari malmstrom.prinsip dari cara ini adalah bahwa kita mengadakan suatu vacum ( tekanan negative ) melalui suatu cup pada kepala bayi. Dengan demikian akan timbul kaput secara artivisiil dan cup akan melekat erat pada kepala bayi.
Pengaturan tekanan harus di turunkan secara perlahan-lahan untuk menghindarkan kerusakan pada kulit kepala, mencegah timbulnya perdarahan pada otak bayi dan supaya timbul caput succedaneum.


B. Alat-alat Ekstraksi Vacum
1. Mangkok ( cup )
Mangkok ini dibuat untuk membuat kaputsuksedeniu buatan sehingga mangkuk dapat mencekam kepala janin. Sekarang ini terdapat dua macam mangkuk yaitu mangkuk yang terbuat dari baha logam dan plastic. Beberapa laporan menyebutkan bahwa mangkuk plastic kurang traumatis disbanding dengan mangkuk logam. mangkuk umumnya berdiameter 4 cm sampai dengan 6 cm. pada punggung mangkuk terdapat:
  • Tonjolan berlubang tempat insersi rantai penarik
  • Tonjolan berlubang yang menghubungkan rongga mangkuk dengan pipa penghubung
  • Tonjolan landai sebagai tanda untuk titik petunjuk kepala janin ( point of direction )
  • Pada vacuum bagian depan terdapat logam/ plastic yang berlubang untuk menghisap cairan atau udara.
2. Rantai Penghubung
Rantai mangkuk tersebut dari logam dan berfungsi menghubungkan mangkuk denga pemegang.
3. Pipa Penghubung
Terbuat dari pipa karet atau plastic lentur yang tidak akan berkerut oleh tekanan negative.pipa penghubung berfungsi penghubung tekanan negative mangkuk dengan botol.
4. Botol
Merupakan tempat cadangan tekanan negatif dan tempat penampungan cairan yang mungkin ikut tersedot ( air ketuban, lendir servicks, vernicks kaseosa, darah, dll )
Pada botol ini terdapat tutup yang mempunyai tiga saluran :
  • Saluran manometer
  • Saluran menuju ke mangkuk
  • Saluran menuju ke pompa penghisap
5. Pompa penghisap
Dapat berupa pompa penghisap manual maupun listrik


C. Teknik Tindakan Ekstraksi Vacum
  1. ibu dalam posisi litotomi dan dilakukan disinfeksi daerah genetalia ( vulva toilet ). Sekitar vulva ditutup dengan kain steril
  2. setelah semua alat ekstraktor terpasang, dilakukan pemasangan mangkuk dengan tonjolan petunjuk dipasang di atas titik petunjuk kepala janin. Pada umumnya dipakai mangkuk dengan diameter terbesar yang dapat dipasang.
  3. dilakukan penghisapan dengan tekanan negative -0,3 kg/cm2 kemudian dinaikkan -0,2 kg /cm2 tiap 2 menit sampai mencapai -0,7 kg/cm2. maksud dari pembuatan tekanan negative yang bertahap ini supaya kaput suksedaneum buatan dapat terbentuk dengan baik
  4. dilakukan periksa dalam vagina untuk menemukan apakah ada bagian jalan lahir atau kulit ketuban yang terjepit diantara mangkuk dan kepala janin.
  5. bila perlu dilakukan anastesi local, baik dengan cara infiltrasi maupun blok pudendal untuk kemudian dilakukan episiotomi.
  6. bersamaan dengan timbulnya his, ibu dipimpin mengejan dan ekstraksi dilakukan dengan cara menarik pemegang sesuia dengan sumbu panggul. Ibujari dan jari telunjuk serta jari tanan kiri operator menahan mangkuk supaya tetap melekat pada kepala janin. Selama ekstraksi ini, jari-jari tangan kiri operator tersebut, memutar ubun-ubun kecil menyesuaikan dengan putaran paksi dalam. Bila ubun-ubun sudah berada di bawah simfisis, arah tarikan berangsur-angsur dinaikan ( keatas ) sehingga kepala lahir. Setelah kepala lahir, tekanan negative dihilangkan dengan cara membuka pentil udara dan mangkuk kemudian dilepas. Janin dilahirkan seperti pada persalinan normal dan plasenta umumnya dilahirkan secara aktif.

D. Keuntungan Tindakan Ekstraksi Vacum
  • Cup dapat dipasang waktu kepala masih agak tinggi, H III atau kurang dari demikian mengurangi frekwensi SC
  • Tidak perlu diketahui posisi kepala dengan tepat, cup dapat di pasang di belakang kepala, samping kepala ataupun dahi.
  • Tarikan tidak dapat terlalu berat. Dengan demikian kepala tidak dapat dipaksakan melalui jalan lahir. Apabila tarikan terlampau berat cup akan lepas dengan sendirinya.
  • Cup dapat di pasang meskipun pembukaan belum lengkap, misalnya pada pembukaan 8-9 cm, untuk mempercepat pembukaan.untuk ini dilakukan tarikan ringan yang kontinu sehingga kepala menekan pada cervik. Tarikan tidak boleh terlalu kuat untuk mencegah robekan cervik. Di samping itu cup tidak boleh terpasang lebih dari ½ jam untuk menghindari kemungkinan timbulnya perdarahan pada otak.
  • Vacum ekstraktor dapat juga dipergunakan untuk memutar kepala dan mengadakan  fleksi kepala ( missal pada letak dahi ). 
 
E. Kerugian Tindakan Ekstraksi Vacum
Kerugian dari tindakan fukum adalah waktu yang diperlukan untuk pemasanga cup sampai dapat ditarik relative lebih lama ( kurang lebih 10 menit ) cara ini tidak dapat dipakai apabila ada indikasi untuk melahirkan anak dengan cepat seperti misalnya pada fetal distress ( gawat janin ) alatnya relative lebih mahal disbanding dengan forcep biasa.

F. Yang Harus Diperhatikan Dalam Tindakan Ektraksi Vacum
  • Cup tidak boleh dipasang pada ubun-ubun besar
  • Penurunan tekanan harus berangsur-angsur
  • Cup dengan tekanan negative tidak boleh terpasang lebih dari ½ jam
  • Penarikan waktu ekstraksi hanya dilakukan pada waktu ada his dan ibu mengejan
  • Apabila kepala masih agak tinggi ( H III ) sebaiknya dipasang cup terbesar
  • ( diameter 7 cm )
  • Cup tidak boleh dipasang pada muka bayi
  • Vacum ekstraksi tidak boleh dilakukan pada bayi premature

G. Bahaya-Bahaya Tindaka Ekstraksi Vacum
  • Terhadap Ibu = Robekan bibir cervic atau vagina karena terjepit kepala bayi dan cup
  • Terhadap Anak = Perdarahan dalam otak. Caput succedaneum artificialis akan hilang dalam beberapa hari,

Masalah Keperawatan
  • Gangguan pemenuhan ADL
  • Nyeri akut
  • Resti infeksi

Diagnosa Keperawatan
  • Gangguan pemenuhan ADL b.d kelemahan fisik
  • Nyeri akut b.d terputusnya kontinuitas jaringan
  • Resti infeksi b.d luka jahitan perinium

Intervensi Keperawatan
Gangguan pemenuhan ADL b.d kelemahan fisik
  • Bimbing pasien melakukan ROM pasif sebelum melakukan ROM aktif dua kali sehari
  • Ajarkan anggota keluarga cara-cara untuk membantu dalam ADL
  • Ajarkan pasien atau keluarga untuk merencanakan  atau melakukan ADL
  • Berikan umpan balik positif untuk pencapaian hal-hal kecil dalam perawatan diri
  • Identifikasi sumber-sumber dalam sistem dukungan sosial pasien, dan pada masyarakat yang lebih luas, yang dapat membantu dalam memenuhi ADL diluar batas kemampuan pasien
Nyeri akut b.d terputusnya kontinuitas jaringan
  • Berikan informasi tentang berbagai strategi untuk menambah penurunan rasa nyeri ( relaksasi, petunjuk imageri )
  • Ajarkan atau awasi pasien menggunakan strategi yang dipilih untuk menambah penurunan rasa nyeri
  • Ajarkan pasien untuk memakai daftar harian dari nyeri dan aktifitas untuk menentukan apa yang mencetuskan atau mengurangi rasa nyeri
  • Memberikan perhatian terhadap penggunaan bahasa untuk menggambarkan rasa nyeri dan kedalamannya.
Resti infeksi b.d luka jahitan perinium
  • Ajarkan pasien untum memilih makanan yang tinggi kalori, tinggi protein, tinggi vitamin. Makanan tersebut dapat meningkatkan penyembuhan dan regenerasi selularserta memproduksi limfosit
  • Ikuti langkah-langkah untuk pencegahan gangguan integritas kulit
  • Cuci tangan selalu sebelum kontak dengan pasien
  • Ganti balut 2 kali sehari

Daftar Pustaka
  • Azzawi Al Farogk. ( 1991 ). Teknik Kebidanan Penerbit Buku Kedokteran. EGC
  • Bagian Obstetri dan Genokologi. (1997). Ilmu Fantom Bedah Obstetri. Semarang: FKUI
  • Purnawan J. Atiek SS. Husna A. (1982). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta:FKUI

Asuhan Keperawatan Ca Serviks


Pengertian
Kanker servik atau kanker leher rahim adalah tumor ganas yang tumbuh didalam leher rahim atau serviks (bagian terendah dari rahim yang menempel pada puncak vagina) sebagai akibat dari adanya pertumbuhan yang tidak terkontrol (Winkjosastro, 1999).
Kanker serviks adalah penyakit akibat dari tumor ganas pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990)

Etiologi
Menurut (Winkjosastro, 1999) Penyebab terjadinya kelainan pada sel-el serviks tidak diketahui secara pasti, tetapi terdapat beberapa faktor resiko yang berpengaruh terhadap terjadinya kanker servik yaitu:
  1. HPV (Human Papiloma virus) adalah virus penyebab kutil genetalis (Kondiloma akuminota) yang ditularkan melalui hubungan seksual, varian yang sangat berbahaya adalah HPV tipe 16,18,45 dan 56.
  2. Merokok; tembakau merusak sistem kekebalan dan mempengaruhi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi HPV pada serviks.
  3. Hubungan seksual pertama dilakukan pada usia dini.
  4. Berganti-ganti pasangan seksual.
  5. Jumlah kehamilan dan partus; kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus semakin besar kemungkinan mendapat karsinoma serviks
  6. AKDR (Alat kontrasepsi dalam rahim); Pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari erosi serviks yang kemudian menjadi ineksi yang berupa radang yang terus menerus.
  7. Infeksi herpes genetalis atau infeksi klamida menahun.
  8. Golongan ekonomi lemah (karena tidak mapu melaksanakan pupsmear secara rutin) erat kaitanya dengan gizi, imunitas dan kebersihan perorangan.

Patofisiologi
Pada awal perkembangannya kanker serviks tidak memberi tanda-tanda dan keluhan, pada pemeriksaan dengan spekulan, tampak sebagai porsio yang erosif (Metaplasia Squamora) yang fisiologik atau patologik. Tumor dapat tumbuh:
  1. Eksofilik, mulai dari squamo – columnar (SCJ) ke arah lumen vagina sebagai masa proliferatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrosis
  2. Endofilik, mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma servik dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus
  3. Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal fornless vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Servik yang normal secara alami mengalami proses metaplasia (erosio) akibat saling desak mendesaknya kedua jenis epitel yang melapisi, dengan masuknya mutagen yang erosif (metaplasia skuamosa) yang semula fisiologik berubah menjadi patologik (diplastik – diskoriotik) melalui tingkatan NIS – I, II, III dan KIS yang akhirnya menjadi karsinoma invasive dan proses keganasan akan berjalan terus. Umumnya fase prainvasif berkisar antara 3-20 tahun (rata-rata 5-10 tahun). Histopatologik sebagian besar (95-97%) berupa epidermoid atau squamor cell carsinoma, sisanya adenokarsinoma, clearcell carsinoma / mesonephroid carsinoma dan yang paling jarang adalah sarkoma.
Penyebaran pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening menuju 3 arah : ke arah fornless dan dinding vagina, ke arah corpus uterus dan ke arah parametrium. Pada tingkat lanjut dapat menginfiltrasi septum rektovaginal dan kendung kemih.

Klasifikasi Karsinoma 
Serviks Berdasarkan Tingkat Keganasan
Tingkat keganasan klinik menurut FIGO, 1978 dikutip oleh Wiknjosastro, 1999
O : Karsinoma Insitu (KIS) atau karsinoma intraepitel, membrana basalis masih utuh
I : Proses terbatas pada serviks walaupun ada perluasan ke korpus uteri
Ia : Karsinoma mikroinvasif, bila membrana kasalis sudah rusak dan sel tumor sudah memasuki stroma tidak lebih dari 1 mm, dan sel tumor tidak terdapat dalam pembuluh limfe atau pembuluh darah
Ib.occ (Ib occult = tersembunyi) : secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma tetapi pada pemeriksaan histopatalogik ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma melebihi Ia
Ib : secara klinis sudah diduga adanya tumor yang histologik menunjukkan invasi ke dalam stroma serviks uteri
II : proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina dan ke parametrium, tetapi tidak sampai dinding panggul
IIa : penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat tumor
IIb : penyebaran ke parametrium, uni/bilateral tetapi belum sampai dinding panggul
III : penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul
IIIa : penyebaran sampai ke 1/3 bagian distal vagina sedang ke parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul
IIIb : penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dengan dinding panggul (frozen pelvic) atau proses pada tingkat klinik I dan II, tetapi sudah ada gangguan faal ginjal
IV : proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rectum dan atau kandung kemih (dibuktikan secara histologik) atau telah terjadi metastase keluar panggul atau ke tempat-tempat yang jauh
IVa : proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi mukosa rectum dan atau kandung kemih
IVb : telah terjadi penyebaran jauh

Sedangkan pembagian tingkat keganasan menurut sistem TNM
T : tak ditemukan tumor primer
T1S : karsinoma pra-invasif, ialah KIS (karsinoma insitu)
T1 : karsinoma terbatas pada serviks (walaupun adanya perluasan ke korpus uteri)
T1a : pra-klinik adalah karsinoma yang invasive dibuktikan dengan pemeriksaan histologik
T1b : secara klinis jelas karsinoma yang invasive
T2 : karsinoma telah meluas sampai di luar serviks, tetapi belum sampai dinding panggul, atau karsinoma telah menjalar ke vagina, tetapi belum sampai 1/3 bagian distal
T2a : karsinoma belum menginfiltrasi parametrium
T2b : karsinoma telah menginfiltrasi parametrium
T3 : karsinoma telah melibatkan 1/3 bagian distal vagina atau telah mencapai dinding panggul
T4 : karsinoma telah menginfiltrasi mukosa rectum atau kandung kemih atau meluas sampai di luar panggul
T4a : karsinoma melibatkan kandung kemih atau rektum saja dan dibuktikan secara histologik
T4b : karsinoma telah meluas sampai di luar panggul
Nx : bila tidak memungkinkan untuk menilai kelenjar limfe regional. Tanda -/+ ditambahkan untuk ada / tidaknya informasi mengenai pemeriksaan histologik, jadi : NZ + atau NX-
N0 : tidak ada deformite kelenjar limfe pada limfografi.
N1 : kelenjar limfe regional berubah bentuk sebagaimana ditunjukkan oleh cara-cara diagnostik yang tersedia (misal : limfografi, CT-Scan panggul)
N2 : teron massa padat dan melekat pada dinding panggul dengan celah bebas infiltra dan diantara masa ini dengan tumor.
M0 : tidak ada metastase berjarak jauh.
M1 :  terdapat metastase berjarak jauh, termasuk kelenjar limfe di atas biforkosia arteri ilioka komunis.

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dari karsinoma servik meliputi:
1. Keputihan yang makin lama makin berbau akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2. perdarahan yang terjadi diluar senggama (tingkat II dan III).
3. Perdarahan yang dialami segera setelah senggama (75-80%).
4. Pedarahan spontan saat defekasi.
5. perdarahan spontan pervaginam.
6. Anemi akibat perdarahan berulang
7. Rasa nyeri akibat infiltrasi sel tumor keserabut saraf.

Pemeriksaan Diagnostik 
1. Sitologi / pap smear
Keuntungan : murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.
Kelemahan : tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
2. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikbat yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.
3. Fotoskopi
Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk melakukan biopsi.
Kelemahan : hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang kelainan pada squamea columner juction dan intraservikal tidak terlihat.
4. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan (pop smear) dengan pembesaran sampai 200 kali.
5. Biopsi
Dengan biopsy dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.
6. Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng serta kelenjarnya. Dilakukan bila hasil sitologi dan pada servik tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

Penatalaksanaan
Terapi karsinoma serviks dilakukan bilamana diagnosa telah dipastikan secara histologik dan sesudah dikerjakan perencanaan yang matang oleh tim kanker / tim onkologi.
1. Pada Tingkat Klinis (KIS) tidak dibenarkan dilakukan elektrokoagulasi, elektrofigerasi, bedah krio atau dengan sinar laser, kecuali bila yang menangani seorang ahli dalam kolposkopi dan penderinta masih muda dan belum mempunyai anak. Jika penderitanya telah cukup anak dan cukup tua dilakukan histerektomi sederhana. Jika operasi merupakan suatu kontraindikasi aplikasi radium dengan dosis 6500 – 7000 rads/c by dititik A tanpa penambahan penyinaran luar.
2. Pada tingkat klinik Ia penanganannya seperti pada KIS
3. Pada tingkat klinik Ib, Ib OCC dan IIa dilakukan histerektomi medical dengan limfatenektomi panggul, pasca bedah biasanya dilanjutkan dengan penyinaran, tergantung ada / tidaknya sel tumor dalam kelenjar limfe regional yang diangkat.
4. Pada tingkat IIb, III dan IV tidak dibenarkan melakukan tindakan bedah, tindakan primer adalah radioterapi.
5. Pada tingkat klinik IVa dan IVb penyinaran hanya bersifat paliatif, pemberian kematherapi dapat dipertimbangkan.

Pengkajian Fokus
Pengumpulan data pada pasien dan keluarga dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1. Data pasien : identitas pasien, usia, status perkawinan, pekerjaan, jumlah anak, agama jenis kelamin dan pendidikan terakhir.
2. Keluhan utama : keluhan pasien yang paling menonjol
3. Riwayat penyakit sekarang dan dahulu.
4. Riwayat obstetri : GPA, infeksi masa nifas, operasi kandungan, tumor
5. Riwayat keluarga
6. Pemeriksaan fisik
7. Pemeriksaan penunjang
a. Kemoterapi (smostatika) pada karsinoma serviks
Peranan kemoterapi pada karsinoma serviks masih dalam tahap penelitian, kebanyakan terapi sitostika hanya bersifat adjuvant (tambahan). Pengobatan standar operasi dan radiasi. Pegmen yang sering digunakan adalah :
- Mitomycin C (CMMC) sebagai terapi tunggal
- Mitomycin C – 6 Flaarounracil (MMC – 5 FV)
- Mitomycin C – Bleomicin (BM)
Atau kombinasi berdasarkan air platinum misalnya :
- Mitomycin C – Cisplatinum (MMC-P)
- Mitomycin C – Oncovin – Cisplatinum – Bleamycin (MOPB)
- Pirubian – Cisplatinom (EP)
- Cisplatinum – Vinblastin – Bleomycin (PVB)
Respon pengobatan dengan sistastika berkisar antara 19–50%, Pemberian sitastika pada karsinoma serviks dilakukan sebelum terapi pembedahan atau radiasi. Pemberian sitostatika cara ini disebut sebagai terapi neoadjuvant dengan hasil cukup menggembirakan.
Syarat pemberian :
Sebelum pengobatan dimulai syarat atau kondisi harus dipenuhi yaitu:
1)    Keadaan umum harus baik / cukup baik
2)    Penderita mengerti tujuan pengobatan dan mengetahui efek samping yang akan terjadi
3)    Faal ginjal (kadar ureum < 40 mg% dan kreatinin < 1,5 mg%) dan faal hati baik
4)    Diagnosis histopatologis diketahui
5)    Jenis kanker diketahui sensitif terhadap kemoterapi
6)    Hemoglobin > 10 gr %
7)    Leukosit > 5000 /ml
8)    Trombosit > 100.000 /ml

Efek Toksik
Gejala-gejala toksik yang sering tampak adalah :
1)    Efek pada fraktur digestivus : gingivitis, stomatitis, diare, mual, muntah dan perdarahan usus.
2)    Gangguan sumsum tulang : anemi, leukopeni dan trombositopeni
3)    Gangguan faal hati, kenaikan suhu, hiperpigmentasi kulit dan gatal-gatal
4)    Gangguan faal ginjal, kenaikan kadar ureum dan kreatinin
5)    Alopesia juga sering dijumpai

Untuk mengetahui pengaruh toksik sebaiknya tiap minggu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Apabila jumlah leukosit < 3000 /ml, kadar Hb < 8 gr% dan trombosit < 100.000 /ml tanpa gejala lain yang berat, pengobatan harus segera ditunda atau dihentikan, setelah keadaan pulih pengobatan dapat diteruskan mula-mula ½ dosis, kemudian ¾ sampai dosis penuh apabila tidak tampak pengaruh hoksik lagi. Untuk mengatasi gejala-gejala ringan seperti mual-muntah diobati secara sintomatik, anemi. Leukopeni dan trombositopeni dapat diobati dengan transfusi darah segar atau tranfusi eritrosit, trombosit atau leukosit.
Evaluasi pengobatan :
1) Lama hidup
Merupakan indeks yang sangat baik untuk menilai respon pengobatan karena tujuan pengobatan adalah memperpanjang hidup tanpa penurunan kualitas hidup.
2) Obyektif
- Complete Respons (CR), lesi yang ada hilang semua dan tidak ada lesi baru.
- Partial Respons (PR), ukuran diameter (2 diameter saling tegak lurus) mengecil 50%.
- No Change (NC), tidak ada perubahan ukuran tumor, bertambah atau berkurang 25%, tidak ada lesi baru.
- Progres Disease (PD), ukuran tumor bertambah lebih dari 25% atau ada lesi baru.
b. Radioterapi pada karsinoma serviks
Dalam menentukan dosis dan teknik radiasi pada pengobatan karsinoma serviks perlu dipertimbangkan faktor daya toleransi dari jaringan-jaringan di dalam rongga pelvis. Jaringan penyusunan serviks merupakan jaringan yang paling tahan terhadap radiasi dibandingkan jaringan tubuh lainnya. Dosis antara 20.000 – 30.000 rad dalam 2 minggu masih dalam batas daya tahannya. Pembatasan dosis ditentukan oleh daya tahan dari usus, ureter dan kantung kemih, karena organ tersebut mempunyai daya toleransi yang lebih rendah. Dosis radiasi lokal melebihi 500 rd dapat menimbulkan reaksi-reaksi yang cukup berat seperti timbulnya ulserasi pada mukosa yang dapat menimbulkan fisiola.
Teknik radiasi :
1) Radiasi lokal (Intrakaviter)
- Radium atau zat radioaktif lainnya diletakkan intravaginal dan intrauterine dengan menggunakan aplikator.
- Pada teknik sockholm digunakan radiasi dengan muatan radium yang agak tinggi, diberikan 2 kali dengan waktu diantaranya 3 minggu, dengan tiap kali pemasangan berlangsung 24-30 jam. Radium diberikan intra uterin dan intravaginal. Untuk menghindarkan tingginya dosis di rectum dan buli dipergunakan kain basa yang diletakkan antara box dan dinding posterior dan anterior vagina. Teknik ini memberikan dosis radiasi yang tinggi pada serviks, fundos dan rongga vagina proksimal, tetapi relatif rendah ke arah lateral.
- Teknik paris digunakan radium bermuatan lebih rendah dan diberikan hanya … antara 96-200 jam. Aplikasi intervaginal terdiri 2 buah silinder yang … bermuatan 13,3 mg dan di muka ostium bermuatan 6,6 mg.
- Teknik Manchester menggunakan muatan radium lebih  Rendah dari Stockholm. Umumnya diberikan Ditetapkan dalam rad.
2) Teknik After – Loading
- After loading manual : aplikator intrauterine dan  dipasang menggunakan radiodiagnostik / lokalisator.
- Remote controlled after – loading system, setelah tempat penyimpanan radioaktif, cara memasukkan obat .selesai tombol lain ditekan sehingga zat radiokatif .
3) Radiasi Eksternal
- Luas lapangan penyinaran meliputi daerah kelenjar limfe sekitar a.abstruttora sampai pertemuan a.dilkomunis biasanya luasnya 15 x 12 cm – 15 x 18 cm. Daerah yang telah mendapat radium intrakaviter selebar antara titik 4 kanan dan kiri ditutup dengan blok timah hitam. Penutupan dilakukan pula pada daerah kaputfermorsis dan sebagian pelvis lateral bagian atas untuk mengurangi bahaya usus-usus terkena radiasi. Dosis yang masih termasuk dosis toleransi ialah 200 rad sehari, 5 x seminggu dan out dosis total sekitar 500 rad dalam 5 minggu. Dapat pula diberikan 300 rad tiap kali, 3x seminggu dengan dosis total 4500 rad.

Kombanasi antara radiasi lokal (intrakaviter) dan radiasi eksternal merupakan pilihan yang umumnya diberikan dengan cara :
1) Radiasi lokal (intrakaviler) dapat memberikan dosis yang tinggi dan korpus uteris, tetapi dosis cepat menurun pada jaringan di sekitarnya, sehingga dosis ke rectum, sigmoid, kandung kemih dan ureter dapat dibatasi sampai batas-batas daya tolerensi.
2) Kemungkinan timbulnya metastase limfogen pada ca.serviks cukup tinggi oleh karena itu kelenjar-kelenjar di dalam panggul kecil harus mendapat penyinaran juga. Dosis radiasi intrakaviter cepat menurun di luar uterus, sehingga dosis yang sampai kelenjar limfe sangat rendah. Untuk dapat mencapai dosis yang mengamankan metastase kelenjar limfe ini diperlukan penyinaran luar yang dapat memberikan distribusi dosis yang merata pada daerah yang lebih luas.
Kombinasi radiasi eksternal dan intrakaviter bergantung pada stadium ca.cerviks.
-  Stadium I + I     :    aplikasi raium  6500 rad dengan 2x aplikasi.
Radiasi eksternal : 5000 rad/5 minggu dengan blok timah pada daerah aplikasi radium.
- Stadium III    :    pertama-tama radiasi eksternal seluruh pelvis (tanpa blok timah) 2000-3000 rad, kemudian aplikasi radium 4500-5000 rad.
-  Stadium IV    :    hanya radiasi eksternal untuk pengobatan
(Wiknjosastro, 1999)

Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
1. Gangguan perfusi jaringan (anemia) berhubungan dengan perdarahan intra servikal.
Tujuan : setelah diberikan perawatan selama 3 x 24 jam diharapkan perfusi jaringan membaik.
Kriteria hasil :   
  • Perdarahan intra servikal berkurang
  • Konjungtiva tidak anemis
  • Mukosa bibir lembab dan kemurahan
  • Ektremitas hangat
  • Tanda vital dalam batas normal
Intervensi:
  • Observasi tanda vital setiap 8 jam
  • Observasi perdarahan (jumlah, warna, lama)
  • Kolaborasi
-    Pemasangan tampon vagina
-    Therapi untuk menghentikan perdarahan dan anemia
-    Pemberian oksigen (bila perlu)
-    Pemeriksaan laboratorium : Hb

2. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan berlebihan melalui rute normal, abnormal, mual-muntah, perdarahan.
Tujuan : klien menunjukkan keseimbangan cairan yang adekuat setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.
Kriteria hasil    :   
  • Membran mukosa lembab
  • Turgor baik
  • TTV stabil
  • Intake dan output seimbang
Intervensi     :
  • Pantau masukan dan haluaran urine
  • Evaluasi TTV setiap 8 jam
  • Evaluasi nadi perifer dan pengisian kapiler
  • Kaji turgor kulit dan kelembaban membran mukosa
  • Dorong pemasukan cairan sesuai toleransi klien
  • Observasi adanya mual-muntah dan perdarahan
  • Kolaborasi pemberian cairan sesuai indikasi
  • Kolaborasi pemeriksaan laboratorium
3. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder adanya imonosupresi, supresi sumsum tulang dan pengeluaran pervaginaan.
Tujuan : tidak terjadi infeksi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.
Kriteria hasil :   
  • Tidak ada tanda-tanda infeksi
  • TTV dalam batas normal
  • Hasil laboratorium dalam batas normal : leukosit
Intervensi    :
  • Tekankan klien pada hygiene personal khususnya hygiene perineal dan oral.
  • Pantau TTV
  • Gerakan prinsip aseptic dalam memberikan perawatan.
  • Tempatkan klien pada lingkungan yang terhindar dari infeksi
  • Kolaborasi pemeriksaan kultur
  • Kolaborasi pemberian antibiotik
  • Kolaborasi pemeriksaan laboratorium : leukosit
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan stomatitis, mual-mual dan anoreksia.
Tujuan : status nutrisi dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.
Kriteria hasil    :   
  • Konjungtiva tidak anemis
  • Sklera tidak ikterik
  • BB dalam batas normal
  • Hasil laboratorium dalam batas normal
Intervensi :
  • Pantau masukan makanan setiap hari
  • Ukur BB setiap hari / sesuai indikasi
  • Dorong klien untuk makanan tinggi kalori dan protein
  • Identifikasi suasana makan yang menyenangkan
  • Dorong klien untuk makan sedikit tetapi sering
  • Kolaborasi :
- Pemberian obat sesuai indikasi
- Pemeriksaan laboratorium : Hb
5. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan invasi kanker ke serabut saraf.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan klien tahu cara mengatasi nyeri.
Kriteria hasil :
  • Klien mampu melakukan teknik / cara-cara mengatasi nyerinya.
  • Intensitas nyeri berkurang
  • Ekspresi muka dan tubuh rileks
Intervensi :
  • Kaji karakteristik nyeri – PQRST
  • Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi
  • Libatkan keluarga dalam melakukan intervensi
  • Kolaborasi pemberian analgetik
  • Kaji efektifitas analgetik.
6. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1 x 30 menit ansietas / cemas berkurang.
Kriteria hasil :   
  • Ansietas berkurang
  • Klien mengutarakan cara untuk menurunkan berat badan
Intervensi    :
  • Kaji tingkat ansietas klien
  • Berikan kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
  • Identifikasi support system dalam keluarga
  • Dorong diskusi terbuka system dalam keluarga
7. Kurang pengetahuan tentang penyakit dan pengobatannya berhubungan dengan tidak mengenai sumber informasi.
Tujuan : setelah diberikan tindakan perawatan selama 1 x 30 menit klien dan keluarga tahu tentang penyakit dan pengobatannya.
Kriteria hasil :
  • Klien mampu menyebutkan cara pengobatan penyakitnya
  • Klien mampu menyebutkan efek samping pengobatan
Intervensi :
  • Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang ca.cervik dan pengobatannya
  • Berikan pendidikan kesehatan tentang ca.cerviks dan pengobatannya.
8. Gangguan body image berhubungan dengan bau tidak enak pada vagina, alcopesia akibat efek pengobatan.
Tujuan : setelah diberikan tindakan perawatan, konsep diri dan persepsi diri dan persepsi klien menjadi stabil.
Kriteria hasil :
  • Klien mampu mengekspresikan perasaannya
  • Klien mampu membagi perasaan dengan keluarga dan perawat.
  • Klien mampu menerima perubahan pada dirinya
  • Klien mampu berpartisipasi dalam perawatan diri
Intervensi :
  • Kontak dengan klien sering dan perlakuan klien dengan hangat dan sikap positif
  • Berikan dorongan pada klien untuk mengekskresikan perasaan dan pikiran tentang kondisi, kemajuan, prognosa, sifat pendukung dan pengobatan.
  • Bantu klien mengidentifikasi potensial kesempatan untuk hidup mandiri, hubungan inter personal, kekuatan pribadi dan pengertian serta perkembangan spiritual dan normal.
  • Kaji respon negatif terhadap perubahan penampilan
  • Bantu dalam penatalaksanaan alopesia sesuai dengan kebutuhan.
9. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan kemoterapi, radiasi dan penurunan imonulogis.
Tujuan : klien tidak mengalami kerusakan integritas kulit setelah diberikan perawatan selama 3 x 24 jam
Kriteria hasil :
  • Integritas kulit utuh
Intervensi :
  • Kaji kulit dari efek samping terapi kanker
  • Gunakan air hangat dan sabun ringan pada waktu mandi
  • Anjurkan klien untuk tidak menggaruk
  • Ubah posisi / alih baring sesering mungkin
  • Hindari untuk memakai krim apapun kecuali resep dari dokter
  • Kolaborasi pemberian obat topical.

10. Perubahan pola seksual berhubungan dengan bau tidak enak pada vagina.
Tujuan : pola seksual tidak mengalami perubahan / gangguan setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.
Kriteria hasil : 
  • Klien / pasangan dapat mengungkapkan penerimaan akan perubahan pola seksual.
Intervensi :
  • Jelaskan efek penyakit, kesehatan fungsi seksual
  • Diskusikan perasaan klien terhadap fungsi seksual
  • Diskusikan masalah tersebut dengan pasangan
  • Beri waktu sendiri untuk klien membicarakan masalah pola seksual.

Daftar Pustaka
  1. Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Unpad.1993. Ginekologi. Elstar. Bandung
  2. Carpenito,Lynda Juall, 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.EGC. Jakarta
  3. Friedman,Borten,Chapin. 1998. Seri Skema Diagnosa & Penatalaksanaan Ginekologi. Edisi 2. Bina Rupa Aksara. Jakarta
  4. Galle,Danielle. Charette,Jane. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta.
  5. Hartono,Poedjo. 2000. Kanker Serviks, Leher Rahim & Masalah Skrining Di Indonesia. Kursus Pra Kongres KOGI XI Denpasar.Mombar Vol. 5 No.2 Me] 2001............... 2001. 
  6. Diktat Kuliah Ilmu Keperawatan Maternitas TA: 2000/2001 PSIK.FK. Unair,Surabaya.
  7. Saifudin,Abdul Bari dkk, 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo & JNKKR -POGI, Jakarta.

Asuhan Keperawatan Ca Ovarium


Definisi
Ca ovarium adalah tumor ganas pada ovarium sesuai dengan klasifikasi histopatologis, karsinoma ovari dapat berupa primer berasal dari epithel ovarium, germ cell, stroma dan sekunder berasal dari metastase Ca dibagian tubuh yang lain.
(Arif Mansjoer, dkk, 1999).
Penyakit yang membuat frustasi bagi pasien dan pemberi perawatan karena awitanya tersembunyi dan tidak adanya gejala peringatan atau penyebab mengapa penyakit ini telah mencapai tahap lanjut ketika didiagnosa.
Penyakit yang merupakan penyebab utama kematian dari kanker reproduksi.
(Brunner & Suddarth : 1559, 2001)

Etiologi
Penyebab Ca ovari belum diketahui pasti, adapun :
Faktor resiko
  • Umur > 40 tahun
  • Riwayat keluarga dengan Ca ovari
  • Nuliparity (wanita yang belum pernah melahirkan)
  • Riwayat infertil
  • Riwayat perdarahan menstruasi yang banyak dan disminore.
  • Obesitas terutama yang intake tinggi lemak hewani.
  • Penggunaan obat stimulasi ovulasi untuk infertile.
  • Kebiasaan menggunakan bedak pada vagina.
(Arief Mansjoer, dkk, 1999)

Patofisiologi

Biasanya Ca ovari berbentuk tumor epitel. Kadang-kadang adeno carsinoma. Ca ovari cenderung tumbuh dan menjalar tidak diketahui (manifestasi) hingga menyebabkan tekanan dekat organ atau distensi abdomen. Ketika tekanan dihubungkan dengan muncul manifestasi akhir, adanya malignant biasanya menjalar ke ovarium yang lain dan struktur lain. Ca ovari mungkin menyerang permukaan kandung kencing, omentum, hati dan organ lain. Ketika di pembuluh darah Pelvic menjadi berbelit-belit (ruwet) terjadi metostase jauh. Biasanya rute perjalanan termasuk limfa, darah, perluasan lokal dan penempatan peritoneal.
(Price, A. Sylvia : 384, 1994).

Tahap-tahap Ca ovarium :
  1. Pertumbuhan terbatas pada ovarium.
  2. Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan perluasan pelvic.
  3. Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan metastase di luar pelvic / nodus inguinal atau retroperitoneal positif.
  4. Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan metastase jauh.
(Brunner & Suddarth Vol. 2 : 2001).
Stadium Ca ovari
• Stadium I : Tumor terbatas pada ovarium.
I A = Tumor terbatas pada satu ovarium, kapsul utuh, tidak ada jaringan tumor di permukaan ovarium.
I B = Tumor terbatas pada kedua ovarium, kapsul utuh, tidak ada jaringan tumor di kedua permukaan ovarium.
I C = Tumor terbatas pada satu / kedua ovarium, dengan keadaan kapsul ruptur, atau ada jaringan tumor di permukaan ovarium.
• Stadium II : Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan penyekaran dalam rongga panggul.
II A = Perluasan / implantasi pada uterus dan atau pada tuba.
II B = Perluasan pada jaringan rongga panggul lainnya.
II C = Perluasan dalam rongga panggul dengan ditemukannya sel ganas pada analisis cairan ascites / dialysis peritoneal.
• Stadium III : Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan metastase peritoneal yang dikonfirmasi secara mikroskopik di luar rongga panggul dan atau kelenjar getah bening regional.
III A = Metastase mikroskopik pada jaringan peritoneal dalam rongga panggul.
III B = Metastase mikroskopik pada jaringan peritoneal dalam rongga panggul dengan diameter < 20 mm.
III C = Metastase mikroskopil pada jaringan peritoneal dalam rongga panggul kurang, dengan diameter terbesar > 20 mm dan atau metastase kelenjar getah bening regional.
• Stadium IV : Pertumbuhan melibatkan satu atau kedua ovarium dengan penyebaran jauh, metastase ke parenkim hati.
(www.geocities.com)
Deteksi dini Ca ovarium dilakukan dengan :
1. PAP Smear
2. Pemeriksan pelvic, retro vaginal
3. Kemungkinan massa pelvic adalah ca ovarium, jika :
  •     Ukuran diameter < 5 cm, kemungkinan 3%
  •     Ukuran diameter antara 5 – 10 cm, kemungkinan 19%
  •     Ukuran diameter > 10 cm, kemungkinan 97%.
4. Pemeriksaan USG (transvagina)
5. Color Doppler duplex / triplex
6. CT Scan
7. Tumor marker (pertanda tumor) lewat pemeriksaan darah.

Bentuk lesi dicurigai sebagai keadaan pra kanker yang terdapat di permukaan ovarium yang menderita kanker, belum dapat dibuktikan (plaxale). Sehingga metode screening yang efektif pun belum dapat ditemukan. Lesi ini mungkin suatu bentuk pra kanker mungkin juga merupakan kelainan lanjut akibat proses kankernya. Jika dapat dibuktikan bahwa lesi tersebut mendahului kanker dan kemudian berkembang menjadi invasive, maka hal itu dapat dijadikan dasar untuk deteksi dini kanker ovarium.
(www.geocities.com)

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis pada tumor ovarium :
  •     Haid tidak teratur
  •     Ketegangan menstruasi yang terus meningkat
  •     Rasa tidak nyaman pada abdomen
  •     Darah menstruasi yang banyak (menoralgia) dan nyeri tekan pada payudara.
  •     Menopause dini
  •     Dyspopsia
  •     Tekanan pada pelvis
  •     Sering berkemih
  •     Malnutrisi
  •     Efusi pigura
  •     Konstripasi
  •     Ascites dengan dispnea.
(Mijakom, dkk 1995).

Penatalaksanaan
1. Operasi
2. Kemoterapi = 6 – 24 bulan
3. Biopsi multipel : jika masih ada tumor
a. Pencegahan primer
Beritahukan klien bahwa Ca ovari mungkin dapat dicegah oleh sesuatu yang mengganggu siklus ovulatory konstan seperti :
  • Kehamilan full term > 1 kali
  • Penggunaan kontrasepsi oral
  • Brest – feeding
b. Pencegahan
Dorong wanita untuk melakukan pemeriksaan pelvic secara rutin dengan pemeriksaan bimanual rectovagina.
  • Berikan antigen CA-125 pada wanita dengan resiko tinggi.
  • Lakukan transvaginal ultrasound yang dikombinasikan dengan pemeriksaan pelvic bimanual, dan pemeriksaan Doppler untuk lesi yang dicurigai.
(Purnawan Junaedi, 1997)

Pengkajian Fokus
1. Identitas
a. Usia     :    biasa terjadi usia > 40 tahun.
b. Jenis kelamin    :    perempuan
c. Pekerjaan
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat kesehatan dahulu
Kaji apakah ada riwayat hipertensi, kanker, penyakit ginjal, DM.
c. Riwayat penyakit sekarang
Kaji apakah
d. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit DM, hipertensi, ginjal, kanker (baik kanker ovarium maupun kanker yang lain).
3. Pemeriksaan Fisik
a. Aktifitas
  • Kelemahan
  • Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur, misal : nyeri, berkeringat.
b. Sirkulasi
  • Palpasi
  • Perubahan TD
c. Eliminasi
  • Perubahan pada pola defekasi : konstipasi
  • Perubahan eliminasi urine : sering berkemih
  • Distensi abdomen
d. Makanan
  • Anoreksia, mual, muntah
  • Perubahan kelembaban atau turgor kulit.
  • Penurunan BB.
e. Neurosensori
  • Pusing, sincope.
f. Nyeri
Derajat nyeri bervariasi dari nyeri ringan sampai berat dihubungkan dengan proses penyakit.
g. Pernafasan
  • Dispnea
  • Efusi pleura
h. Seksualitas
Ketidakmampuan melakukan hubungan seksual karena proses penyakit.
i. Interaksi sosial
•    Ketidakadekuatan sistem pendukung.
•    Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan).
4. Pemeriksaan TTV
Normalnya TD = 120/80 mmHg
    N = 80 – 100 x/mnt
    RR = 24 x/mnt
    S = 36,5 – 37,5 0C
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pap Smear
Displasia seluler menunjukkan adanya kanker.
b. Ultra sound / CT Scan
Membantu mengidentifikasi ukuran / lokasi masa.
c. Laparoskopi
Dilakukan untuk melihat tumor, perdarahan laparotomi mungkin dilakukan untuk membuat tahapan kanker atau mengkaji efek kemotrapi.
d. Biopsi (endometrial / servikal)
Memungkinkan pemeriksaan histopatologis sel untuk menentukan adanya / lokasi kanker.
e. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis, sementara penurunan Hb menduga kehilangan darah aktif peningkatan leukosit dapat mengidentifikasi proses inflamasi / infeksi.
f. Parasintesis cairan asites.
g. Ultrasanografi.
h. Pemeriksaan rontgen.

Prinsip Menghadapi Tumor Ovarium
a. Operasi untuk mengambil tumor :
  • Dapat menjadi besar.
  • Kemungkinan degenerasi panas.
b. Saat operasi dapat didahului frozen section, untuk kepastian ganas dan tindakan operasi lebih lanjut.
c. Hasil operasi harus dilakukan pemeriksaan PA, sehingga kepastian klasifikasi tumor dapat ditetapkan untuk menentukan terapi.
d. Operasi tumor ganas diharapkan :
  • Pengambilan sebanyak mungkin jaringan tumor sampai dalam batas aman, diameter sekitar 2 cm.
e. Setelah mendapatkan radiasi atau kemoterapi dapat dilakukan operasi kedua, untuk mengambil sebanyak mungkin jaringan tumor.

Pathways
 

Intervensi
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d adanya massa yang menekan sel syaraf nyeri.
Tujuan : Nyeri dapat berkurang bahkan hilang
KH : TTV dalam batas normal
Ekspresi wajah tenang / rileks.
Intervensi     :
a. Kaji skala nyeri dengan pendekatan P, Q, R, ST.
R = mengetahui status nyeri.
b. Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam.
R = membantu mengurangi nyeri.
c. Berikan posisi yang nyaman
R = membantu mengurangi nyeri dan pasien bisa rileks.
d. Berikan obat analgetik sesuai indikasi
R = mengurangi / menghilangkan rasa nyeri.
2. Gangguan keseimbangan cairan lebih dari kebutuhan tubuh b/d adanya oedema pada tubuh.
Tujuan : mempertahankan BB ideal
KH : BB stabil
TTV dalam batas normal
Tidak terjadi oedema dan turgor kulit normal.
Intervensi     :
a. Catat pengeluaran dan pemasukan cairan dalam tubuh.
R = untuk menentukan fungsi ginjal kebutuhan penggantian cairan dan menurunkan resiko kelebihan cairan.
b. Timbang BB tiap hari sebagai pengawasan status cairan.
R = penimbangan BB sebagai pengawasan status cairan.
c. Kaji kulit apa ada oedema pada bagian tubuh lain.
R = oedema terjadi pada jaringan yang tergantung pada tubuh.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat.
Tujuan : kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
KH : BB normal
Tidak terjadi udem.
Intervensi :
a. Kaji / catat pemasukan diet
R = dapat digunakan sebagai dasar untuk evaluasi selanjutnya.
b. Kaji bising usus dan catat gerakan usus termasuk frekuensi, konsistensi
R = mendefinisikan masalah konstipasi, catatan : konstipasi adalah salah satu manifestasi termudah dari neurotoksisitas.
c. Pantau masukan dan keluaran serta BB
R = ketidakadekuatan masukan cairan dapat menimbulkan konstipasi.
d. Berikan obat suppositorial
R = membantu melancarkan BAB dan mencegah komplikasi lebih lanjut pada beberapa pasien dengan pola defakasi buruk sebelum pengobatan.
(Doengoes, 2000).
 
Daftar Pustaka
  • Arief Mansjoer, Irfan Wahyudi, Wiwiek Setiawulan, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Penerbit Media Auesculapius FKUI.
  • Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Madical Bedah. Jakarta : EGC.
  • Marylin E. Doengoes, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta ; EGC.
  • Price, A. Sylvia. 1994. Pathofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta : EGC
  • Mija Kim, dkk. 1995. Diagnosa Keperawatan. Alih Bahasa : Niluh Gede Yayasan Asih. Jakarta : EGC.
  • Purnawan Junaedi. 1997. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Jakarta.
  • Potter, Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.

Asuhan Keperawatan Ca Mamae


Pengertian
Ca mamae adalah suatu penyakit seluler yang dapat timbul dari jaringan payudara dengan manifestsi yang mengakibatkan kegagalan unutk mengontrol proliferasi dan maturasi sel.   
(  brunner and suddarth, 2002 )
Ca mamae adalah suatu penyakit yang menggambarkan gangguan pertumbuhan seluler dan merupakan kelompok penyakit, bukan penyakit tunggal
( Tucker dkk, 1998)
 
Etilogi
Ca mamae dapat terjadi karena
  1. factor genetic
  2. hormonal
  3. daya tahan tubuh
  4. lingkungan
Perubahan genetic termasuk perubahan atau mutasi gen hormonal dan pengaruh protein baik yang menekan atau meningkatkan perkembangan kangker payudara. Dua hormon ovarium yaitu estrogen dan progesterone mengalami perubahan dalam lingkungan seluler yang dapat mempengaruhi dalam faktor pertumbuhan bagi kanker payudara
Factor resiko meliputi
  1. Riwayat pribadi tentang Ca mamae
  2. Anak perempuan dan saudara perempuan dan wanita dengan ca mamae
  3. Menarche terlalu dini
  4. Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama
  5. Menopause pada usia lanjut
  6. Riwayat penyakt payudara jinak
  7. Pemajanan terhadap radiasi ionisasi setelah masa pubertas dan sebelum usia 30 tahun beresiko 2 kal lipat
  8. Obesitas
  9. Kontrasepsi oral
  10. Terapi penggantian hormon
  11. Penggunaan alkohol    
(Arif Mansjoer, 2002)
 
Manifestasi klinik
  1. Benjolan payudara yang dapat di raba
  2. Adanya lesi pada payudara dengan ulserasi dan berjamur
  3. Retraksi putting susu
  4. Nyeri pada payudara
(Arif Mansjoer, 2002)

Patofisiologi
Bukti yang terus bermunculan menunjukkan bahwa adanya perubahan genetic berkaitan dengan kanker payudara namun apa yang menyebabkan genetic masih belum di ketahui
Meskipun belum ada penyebab spesifik kanker payudara yang di ketahui namun  bisa diidentifkasi melalui beberapa factor resiko, factor ini penting dalam membantu mengembangkan program pencegahan. Hal yang selalu harus di ingat adalah bahw 60 %  yang di diagnosa kanker payudara tidak mempunyai factor resiko yang teridentifikas kecuali lingkungan hormonal mereka
Di masa kehidupan, wanita di anggap beresiko untuk mengalami kanker payudara, namun mengidentifikasi factor resiko merupakan cara untuk mengidentifikasi wanita yang mungkin di untungkan dari kelangsungan hidup yang harus meningkat dan pengobatan dini
(Price,A Sylvia.1999)

Penatalaksanaan
Pembedahan untuk pengangkatan payudara
  1. Mastektomi
  2. Bedah dengan penyelamatan payudara
  3. Terapi radiasi 
Pengobatan
  1. Kemoterapi
  2. Terapi hormonal

Pengkajian fokus
1. Slaging ( penentuan stadium kanker) sebagai panduan pengobatan dan untuk menentukan prognosis kanker payudara.
  • Stadium 0: kanker insitu
  • Stadium 1: tumor dengan garis tengah 2-5 cm dan belum menyebar ke payudara.
  • Stadium 11A dan 11B: tumor dengan garis tengah lebih besar dari 5cm dan belum menyebar ke kelenjar getah bening ketiak.
  • Stadium 111A: tumor dengan garis tengah kurang dari 5cm dan sudah menyebar kekelenjar getah bening ketiak disertai perlengketan satu sama lain.
  • Stadium 111B: tumor telah menyusup keluar payudara yaitu kedalam kulit payudara atau ke dinding dada atau telah menyebar kekenjar getah bening didalam dinding dada dan tulang dada.
  • Stadium 1V: tumor telah menyebar keluar payudara dan dinding dada misalnya ke hati dan tulang.
2. Riwayat Kesehatan
Kaji faktor penyebab dan masalah kesehatan
3. perubahan pola fungsi
pola aktifitas dan istirahat, hubungan dengan orang lain, persepsi diri dan konsep diri, mekanisme koping.
4. pemeriksaan fisik
keadaan umum, ttv, alergi pada obat tertentu
5. pemriksaan penunjang
pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan EKG, obat-obatan, dan diit.
 
Diagnosa keperawatan
  1. Ketakutan atau ansietas berhubungan dengan krisis situasi
  2. Berduka antisipasi berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh
  3. Nyeri berhubungan denagan proses penyakit
(Carpenito.LJ,2001)

Perencanaan Keperawatan
1) Ketakutan atau ansieats berhubungan dengan krisis situasi
Tujuan :
  • Penurunan stress, emosional dan ansietas
Kriteria hasil :
  •  Bekurangn rasa takut
  • Tampak rileks
  • Ansietas berkurang
Intervensi :
  • Tinjau ulang pengalaman pasien atau orang terdekat sebelum dengan kanker
  • Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan
  • Pertahankan kontak sering dengan pasien
  • Berikan informasi akurat konsisten, mengenal prognosis

2) Berduka antisipasi berhubungan dengan kehilangan bagian tubuh
Tujuan :
  • Adaptasi realistis terhadap perubahan yang akan terjadi
Kriteria hasil :
  • Mengungkapkan perasaan dalam berduka
  • Melanjutkan aktivitas kehidupan noramal, merencanakan masa depan
  • Mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan dengan tepat
Intervensi :
  • Perkiraan syok awal dan ketidaknyamanan setelah diagnosis knker atau prosedur yang menimbulkan trauma
  • Kaji pasien atau orang terdekat terhadap berduka
  • Sadari depresi yang melemahkan, tanyakan ke pasien tentang status pikiran
3) Nyeri berhubungan denagan proses penyakit
Tujuan :
  • Tidak ada nyeri dan rasa tidak nyaman
Kriteria hasil :
  • Melaporkan kehilangan nyeri maksimal atau kontrol dengah pengaruh maksimal
  • Mengikuti aturan farmakologis yang ditentukan
  • Mendemonstrasikan penggunaan relaksasi dan aktivitas hiburan
Intervensi :
  • Evaluasi atau sadari terapi tertentu
  • Berikan tindakan kenyamanan dasar
  • Dorong penggunaan ketramplan management nyeri
  • Evaluasi penghilangan nyeri
(Doengoes.E Marylin,2000)

Daftar pustaka
  1. Brunner and suddarth, (2002). keperawatan medikal bedah, vol.2. Jakarta, EGC
  2. Carpenito L.J, (2001). Buku saku diagnosa keperawatan, Jakarta. EGC
  3. Doengos,E.Marylin, (2000). Rencana asuhan keperawatan, Jakarta. EGC
  4. Tucker,Cannobio,paquette,wells, (1999). Standar perawatan pasien, proses keperawatan, diagnosa dan evaluasi, edisi v, penerbit buku kedokteran, Jakarta. EGC
  5. Price A Sylvia, (1999). Patofisiologi konsep klinis  proses penyakit. Jakarta. EGC

Asuhan Keperawatan Bayi Neuroma Pada Fronto Orbita Sinistra


Pengertian
Tumor Orbita merupakan benjolan atau pembengkakan abnormal yang ditemukan didaerah orbita.

Epidemologi
Tumor secara umum dibedakan menjadi neoplasma dan non-neoplasma. Neoplasma dapat bersifat ganas atau jinak. Tumor ganas terjadi akibat berkembang biaknya sel jaringan sekitar infiltrat, sambil merusakkan. Neoplasma jinak tumbuh dengan batas tegas dan tidak menyusup, tidak merusak tetapi menekan jaringan  disekitarnya dan biasanya tidak mengalami metastasis. Tumor orbita relatif jarang dijumpai. Pada proses pengambilan ruangan di orbitapenderita biasanya datang dengan keluhan seperti ada benjolan yang menyebabkan perubahan bentuk wajah, protopsis, nyeri peri okular, inflamasi, keluarnya air mata, massa tumor yang jelas  nampak. Insiden tumor orbita bervariasi, tergantung pada metode pemeriksaan yang dipakai. Frekwensi relatif benigna dan maligna menurut handerson (1984); disebutkan sebagai berikut : karsinoma (primer metastasis dan pertumbuhan terus 21 %, kista 12 %, tumor vaskular 10 %, meningioma 9 %, malformasi vaskuler 5% dan tumor saraf tengkorak 4%, serta glioma optikus dan neurisistik 5%.

Asuhan Keperawatan
a.       Pengkajian
Pre Operasi
Peri Operasi
Pasca Operasi
S: Benjolan pada daerah sekitar mata/dahi, ada perasaan yang tidak nyaman akibat adanya benjolan, nyeri, takut. Riwayat trauma, riwayat tumor pada keluarga, riwayat penyakit yang pernah diderita, riwayat pembedahan, perasaan klien berhubungan dengan pembedahan. Haus. Riwayat alergi.  lemas akibat puasa. Pada anak riwayat tumbuh kembang, imunisasi. Puasa, mandi.
S : -
S : Nyeri, susah bernafas, tubuh dingin
0 : Tampak benjolan pada daerah orbita, ukuran benjolan, jenis benjolan (keras, lunak, mobile/tidak ). Keadaan umum, kesadaran, keadaan kulit (pucat, cyanisis, icterus ), tekanan darah, Nadi dan suhu biasanya normal. Ukur BB dan TB. Status gizi. Kebersihan daerah operasi.
      Data penunjang : Foto Thorax, CT scan, Lab DL. UL, FL, FH dan hasil tes antibiotika, informed concent.

0 : Terpasang alat perawatan,(infus, monitor, respirator ).Posisi tertelentang. Induksi dengan anastesi. Dilakukan eksisi. Suhu lingkungan 22 oC. Perdarahan.
O : Lemah, terpasang infus, catatan tentang anestesi yang didapat, kesadaran menurun, luka bekas operasi, catatan perdarahan, peristaltik usus menurun, flatus       (-).Hasil PA. Mual dan muntah, menangis pada anak-anak. Tubuh dingin, akral dingin, mukosa kering.

b.      Diagnose dan Perencanaan
PRE OPERASI

DX                            TUJUAN          TINDAKAN
Rasional
Kecemasan pada anak atau orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang kemungkinan penyakit dan prosedur tindakan operasi
Tujuan :
Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui penyakit serta prosedur tindakan yang akan dilakukan pada klin/anaknya.
1. Jelaskan tentang penyakit yang  diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan.

2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya sampai di ruang premedikasi.



3. Yakinkan tentang jaminan mengenai tindakan yang akan dilakukan.

4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya.








5. Pastikan kelengkapan operasi klien (Status, hasil lab, Foto Radiologi, Ct Scan, Obat-obatan, alat-alat, informed concent

- Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko tindakan operasi yang skan dilakukan
- Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan.
- Agar kecemasan dapat tereduksi.



- Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien
- Untuk menjamin keamanan fisik maupun psikologis petugas dan keluarga, yang memastikan segalaya telah siap.

Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi
Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria :
- Turgor baik
- Cowong -
- Mukosa lembab.
1.   Kolaborasi  pemasangan infus


2.   K/P pasang kateter



3.   Observasi kelembaban mukosa
- Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien.

- Untuk mengetahui keseimbangan intake/output cairan
- Untuk mengetahui kecukupan cairan.

INTRA OPERASI
DX                            TUJUAN          TINDAKAN
Rasional
Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d  peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi
Selama operasi tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas.
1.      Bantu memberikan posisi stabil
2.      Bantu menyiapkan alat intubasi.

3.      Bantu memonitor status respirasi


4.      Lakukan monitoring SaO2





5.      Pantu tanda distress pernafasn setelah penyapihan ETT/respirator.

- Untuk melancarkan airway
- Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas
-  Untuk mengetahui tanda gg pola nafas
- Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2.
- Untuk mengetahui efek anastesi pada SSP.
Resiko terjadi cedera (hipotermi, bradikardi,  b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi, serta penekanan pada nervus X pada segmen posterior orbital.
Selama operasi :
- Tidak terjadi hipotermi
- Tidak terjadi okuloreflek
1.   Pasang diatermi sebagai alas meja operasi.


2.   Perhatikan pemasangan ground diatermi.
3.   Berikan selimut operasi yang lebih tebal terutama untuk bayi dan lansia.
4.   Pantau nadi  dan EKG selama operasi


- Untuk mencegah hipotermi dg memberikan hangat secara elektrik
- Untuk mencegah kombus atau elektrik injury
- Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi


- Penekanan pada bola mata dapat menimbulkan timbulnya okulo reflek yang merangsang nervus X sehingga dapat terjadi bradikardi .


PASCA OPERASI

DX                            TUJUAN          TINDAKAN
Rasional
Kecemasan pada anak atau orang tua b.d kurangnya pengetahuan tentang hasil operasi.
Tujuan :
Setelah 15 menit klien/keluarga dapat mengetahui hasil operasi.
1. Jelaskan tentang hasil operasi yang dilakukan, serta keadaan klien penyakit yang  diderita klie/anaknya serta prosedur tindakan operasi yang akan dilakukan.

2. Berikan kesempatan menemani klien/anaknya di ruang RR.




3. Jelaskan tentang tindak lanjut hasil Px jaringan

4. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk bertanya.
- Agar keluarga mengerti sehingga lebih paham tentang kondisi dan resiko dari hasil operasi yang telah dilakukan



- Untuk meningkatkan orientasi dan meyakinkan bahwa operasi bukan sesuatu yang menakutkan.
- Agar kecemasan dapat tereduksi.


- Jawaban yang benar yang mampu menjawab keingintahuan klien merupakan sustu metode katarsis yang dapat mengurangi kecemasan klien
Resiko defisit volume cairan b.d puasa sekunder persiapan operasi
Setelah 30 menit tidak terjadi defisit cairan dengan kriteria :
- Turgor baik
- Cowong -
- Mukosa lembab.
1. Observasi cairan infus


2. K/P pasang kateter


3.Observasi kelembaban mukosa

- Untuk memenuhi kebutuhan cairan klien.

- Untuk mengetahui keseimbangan intake/output cairan
- Untuk mengetahui kecukupan cairan.
Resiko terjadi hipotermi, b.d suhu lingkungan yang rendah sekunder rendahnya kadar lemak subcutan pada bayi
Selama di RR
- Tidak terjadi hipotermi

1.   Berikan selimut operasi yang lebih tebal terutama untuk bayi dan lansia.


- Untuk mencegah kehilangan panas melalui evavorasi


Resiko terjadi ketidakefektifan pola nafas b.d  peningakatan sekret dan penurunan reflek menelan sekunder pemakaian Anestesi
Selama operasi tidak terjadi gangguan bersihan jalan nafas.
1. Bantu memberikan posisi stabil

2.Bantu menyiapkan alat intubasi.


3.Bantu memonitor status respirasi

6.      Lakukan monitoring SaO2

- Untuk melancarkan airway
- Intubasi dapat mencegah resiko sumbatan jalan nafas
-  Untuk mengetahui tanda gg pola nafas
- Memantau keadekuatan DO2 dan VO2 sebagai indikator perfusi dan pemenuhan O2.



Daftar Pustaka
  1. Tabrani, (1998), Agenda Gawat Darurat Jilid 3 Penerbit Alumni Bandung
  2. Guyton, (1991), Fisiologi Manusia, EGC,  Jakarta
  3. Barbara Engram, (1995), Perawatan Medikal Bedah, EGC, Jakarta
  4. Dongoes M.E, Marry F, Alice G (1997) Nursing Care Plans, F.A davis Company, Philadelphia.
  5. Carpennito L.J (1997), Nursing Diagnosis, JB. Lippincot, New York
  6. Naught Callender (1990), Illustrated Physiology, Churchill Livingstone, New York.
  7. Syamsuhidayat, Wim de Young, (1998 ), Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta